Sidang kemarin semua anggota DPR berlomba-lomba menyuarakan suaranya. Makanya jadi rame itu ruangan. Padahal kalau hari-hari biasa banyak anggota yang pada mbolos. Yah semoga saja mereka semua bersuara dengan tujuan baik untuk kepentingan rakyat, dan bukan datang hanya untuk uang sangu dari parpol masing-masing. Embuh lah.
Sementara saya hanya seorang pedagang sayur yang justru lebih banyak diam. Mau BBM naik atau tidak, saya diam saja. Itu di luar kapasitas otak saya. Kalau saya ikut-ikut ngomong, saya takut di demo oleh ibu-ibu karena harga sayur naik. Anak-anak banyak yang tidak sehat dan bapak-bapak dimarahi istrinya karena tiap malem tidur cepet karena kekurangan sayuran.
Masih mendingan dari pada Bang Agus, yang 20 tahun jualan nasi padang di perempatan jalan. Baru-baru ini dia disemprot sama juragan lamanya yang baru pulang dari Amerika Serikat United. Sudah 5 tahun itu langganan tinggal di negara Paklik Sam. Jadi suatu ketika dia datang ke warungnya Bang Agus untuk pesen Pizza buat pesta sunatan anaknya, karena semua tamunya adalah bule. Lah, kan kebingungan itu Bang Agus. Nemu IQ seko ngendi iku juragan? Tanya mbah Jiwo penasaran.
Sebelum berangkat ke Amerika Serikat United, juragan itu pernah menyelamatkan Bang Agus dari bangkrut akibat perampokan. Ketika itu semua karyawannya pergi untuk mengantarkan delivery order ke suatu pesta kawinan, maka Bang Agus jaga sendirian. Pas ditinggal sholat dhuha warungnya dimasuki garong. Kasir box yang sedang penuh-penuhnya di akhir bulan disikat. Dan bukan hanya itu saja, ndelalah semua isi etalase diembat juga. Yang ditinggal hanya satu ikat pete.
Sehingga saya merasa wajar saja ketika Bang Agus hanya bisa diam walaupun berkali-kali dicaci-maki juragan itu. Juragan itu merasa tidak terima karena Bang Agus tidak mau melayani pesanan Pizza untuknya dan justru menceramahi Bang Agus, bayangin aja. Dia bilang kalau jaman sekarang persaingan semakin ketat, kalau tidak mengambil kesempatan dan tantangan tidak akan pernah maju. Salah seorang tamunya bahkan akan membantu Bang Agus membuka cabang di Amerika untuk mempromosikan Pizza. Terlebih lagi dia memohon agar Bang Agus tidak mempermalukan dirinya di depan tamu-tamunya dengan menghindangkan rendang, dll. Dan dia bahkan selalu menyempatkan diri untuk mampir ke tempat Bang Agus sebelum berangkat kerja, untuk menanyakan itu.
Saya juga tidak bisa membantu apa-apa ketika Bang Agus berkeluh kesah ke saya. “Saya cuman ingin kerja sederhana aja mas. Nggak usah yang muluk-muluk jualan ke Amerika segala. Asalkan saya seneng njalaninnya, itu sudah cukup,” kata Bang Agus.
Si Bambang temen deket saya dari kampung ngomong kalau Bang Agus itu sebenarnya orangnya sederhana. Di lain pihak, dia tidak dalam posisi yang bisa menolak juragan itu akibat rasa nggak enak. Jadi posisinya yang diem aja itu posisi yang pas.
Sementara itu, Yudho, adikya Bambang, ngomong kalau juragan yang maksa itu juga tidak punya rasa cinta sesama *halah. Lha ngapain kok maksa ndatengin terus. Toh semuanya bisa dilihat dari perilakunya Mas Agus. Jadi tinggal diambil kesimpulan aja. Seolah-olah diiming-imingi buka cabang ke Amerika, padahal sebenarnya si juragan itu yang tidak ingin malu ke tamu-tamunya. Yang bener yang mana? Yudho yang pernah ngicipi sekolah di ITS ngomong, mbok ya jadi orang itu yang tegas. Take it or leave it, bahasa jawanya. Kalau mau ke Mas Agus ya ambil rendangnya, tapi kalau tidak suka redang ya pindah aja ke warung sebelah. Gitu aja kok nggak bisa. Lagian kalau ngebet mau makan Pizza kenapa si juragan itu tidak berusaha jalan-jalan yang agak jauh dikit, sapa tahu nemu itu warung yang namanya Pizza Hut.
Saya pribadi mendukung Bang Agus untuk diam saja. Karena saya juga demikian. Tidak semua keinginan hati kan perlu diomongkan. Karena yang keluar pasti keegoisan. Jadi yang fair aja itu juragan sama Bang Agus. Juragan silahkan bebas mo mencecar Bang Agus dengan ceramah. Dan Bang Agus juga punya kebebasan juga mo ndanggepin atau nggak naggepin ceramah itu. Lha selama ini yang ada sang juragan juga maksa Bang Agus untuk nanggepin ceramahnya. Jadi penderitaan Bang Agus dobel. Tiggal dilihat keihklasan hati juragan itu sampai mana.
Bahkan pepatah mengatakan kalau diam itu emas. Tapi jangan gunakan pepatah itu lagi. Bisa-bisa ditambang Freeport mulutmu nanti. Atau mungkin banyak yang tidak bisa diam sekarang ini soalnya sudah habis disedot Freeport itu emas di mulutnya.
Lha mungkin kalau Bang Agus tidak punya kesanggupan untuk diam karena memperhitungkan semua aspek sosial politik ekonomi, mungkin juragan itu sudah ditabok pake bantal mukanya. Sekarang tinggal nungguin aja itu, apakah nantinya rendang daging kambing kesukaan Bang Agus akan diganti ama Pizza karena modal pake punya juragan. Mbuh, lah. Yang pasti saya tahu isi hati Bang Agus, tapi tidak akan saya omongkan ke siapa-siapa.