Archive for November, 2010

Maverick Meerkat + Microsoft Office 2007

Ternyata Ubuntu 10.10 dengan code name MM, dikasih nama Maverick Meerkat, dan bukan Misbahul Munir seperti yang saya harapkan. =) Dan sampai saat ini, Open Office saya rasa belum bisa menggantikan kehandalan Office buatan Microsoft.

Jadi setelah melakukan tweaking terhadap Ubuntu yang saya install di laptop yang bukan punya saya, saya langsung berusaha menginstall Office 2007. Wine 1.2.1 ternyata sudah lebih canggih dari yang sebelumnya. Jadi tidak perlu repot-repot untuk tweaking wine dulu. Hanya perlu 2 cara untuk menginstall Office 2007 ini.

1. Install MSXML3 lewat winetricks

wget http://www.kegel.com/wine/winetricks
winetricks msxml3

2. Install Office 2007 Sekarang tinggal menjalankan installer Office 2007, dan bisa anda lakukan lewat GUI maupun terminal.


Nah, keliatan kan Arumi Bachsin semledot banget, XD

Letto | Senyumanmu

Senyumanmu

Indah matamu, Gerai rambutmu
Menunjukkan itulah keindahan

Yang memberikan, Bentuk senyuman
Sebentuk usapan, Kepada hati

Sinar wajahmu, Lembut katamu
Sepertinya mampu, Menggubah dunia

Yang terasa, Begitu hampa
Semuanya sirna, Tanpa cinta

Kutemukan, Arti kerinduan
Dan kumengerti, Yang kucari

Reff :
Oh bukanlah, Cantikmu yang kucari
Bukanlah itu, Yang aku nanti
Tetapi ketulusan hati yang abadi

Kutahu, Mawar tak seindah dirimu
Awan tak seteduh tatapanmu
Tetapi kau tahu, Yang kutunggu hanyalah
senyumanmu

Dhedot : Walah dirasani kok yo lek teko ngene ki lo
Noe : Do ngopo ki? Raine koyo kopet ki?
Dhedot : Dadi ngene ki lo critane, Jane mesakke aku ndelok rupamu, nanging piye? gandeng konco kenthel, yo tho? aku tetep kudu ngomong karo koe
Noe : Ngomong opo?
Dhedot : Wedokan kae, sing mbok aku-aku pacarmu, sing semledhot kae, sing ono fotone, lha kui mung apus-apus, awang-awangmu tok kui, alah ra eneng
Noe : Njur sing tok pikir aku ki gendheng opo piye?
Dhedot : He eh
Noe : Mbok pikir aku toying ndue bojo semledhot koyo ngene?
Dhedot : Kandani og, yo mesti iyo, lha wong aku ki ngetutke kowe je
Noe : Goblok banget je cah iki, mbok pikir aku ono po iki? konco-koncomu ono po iki? iki pawujud po piye?

Reff

Noe : Mikir ki ojo nggo dengkul wae, pisan-pisan nggo ati, eling

Untuk Cahayaku

Puisi yang ada di lagu Permintaan Hati versi video. Judulnya sih saya bikin sendiri, XD.

Untuk Cahayaku

Untuk Marsya cahayaku
“ndak” ada kata yang bisa aku sampaikan
selain maaf dan terima kasih
sudah memberi arti di hidupku yang sempit ini

Aku harus pergi
bukan meninggalkanmu
tapi hanya terlepas darimu

Jika kamu yaki akanku
maka iniliah cara yang terbaik untuk dijalankan

by: Letto

Obama Bersyahadat di Istiqlal? ataukah Sholat?

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran orang yang menutup Masjid Istiqlal untuk umum itu. Tapi kalau diruntut sedikit mendalam, hal tersebut memang wajar saja terjadi. Lha wong sekarang agama sudah menjadi sebuah institusi kelembagaan. Agama adalah sebuah departemen, di mana birokrasi-birokrasi dan sistem-sistem dunia menguasai seluruh aspeknya. Hilanglah nilai-nilai tentang “apa itu agama” yang sebenarnya.

Lebih jauh, agama sudah menjadi sebuah industri yang bersifat materiil. Mulai dari Ketik “REG <SPASI> DZIKIR”, sampai ke Da’i yang memasang tarif sekian untuk sekian jam. Dan itu sudah bukan hal yang asing lagi bagi kita. “Album-album yang dikatakan religi (dari Hong Kong)” membanjiri industri musik Tanah Air. Ada group band “menyanyikan” shalawat dengan memakai anting di telinga mereka. Mereka berusaha mencari jalan yang lurus, tetapi begitu dikasih, eh kagak dipake. Kalau dalam bertamu kita meminta minum teh, sudah dikasih, eh kagak kita minum. Palah dengan muka innocent kita meminta disuguhin lagi, sampai berkali-kali. Kan gendeng itu namanya?

Seorang Da’i datang untuk mengadakan Dzikir Akbar di kantor kakak saya. Beliaunya datang dengan membawa body guard! Lah, apapula itu? Saya tertawa dengan keras. Isi ceramah yang selalu mengatakan “takutlah hanya kepada Tuhan”, dikemanain? Selain Da’i tersebut, kantor itu juga mengundang seorang motivator terkenal. Kebetulan sang Motivator lebih dahulu maju mengisi acara. Lantas ketika giliran sang Da’i maju, do’i marah-marah dulu ketika awal pidato, “Tahu gini (ada motivator yang diundang, eh ngisi acara pembuka pula) saya tidak bakalan mau hadir di sini!” Hahahahaha, pecah tawa saya. Seorang Da’i ternyata juga harus memikirkan pesaing. Pasti do’i  ngelakuin apa yang disebut dengan analisis SWOT juga, dan saya yakin ada divisi marketing yang mengurusi promosinya.

Ah, apapun itu, semoga besok Rabu di jalan Medan Merdeka Timur tidak terjadi kemancetan karena ada hajatan agama yang melembaga itu. Karena saya ada janji makan siang di gedung dengan logo P di sana. XD

Eren | Takkan Pisah

Entah kenapa saya kok suka mendengarkan lagu ini, bukan lirik atau musiknya, bukan orangnya juga. Mungkin karena inget something. Hedew, apapula ini. Ck, ck, ck, hidupmu kok rumit banget to le, le.

sayang aku ingin berbicara kepadamu
tentang apa yang tengah aku rasakan
ada apa, ada apa katakanlah semuanya
ku kan dengarkan duhai cintaku

bila nanti orang tuamu meridhoi dengan
apa yang ku rasakan padamu
semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya
begitu pun orang tuaku

kau takkan tinggalkanku
takkan pernah, sayangku
janjimu janjiku untukmu

reff:
takkan ada yang pisahkan kita
sekali pun kau telah tiada
akan ku pastikan
ku kan memeluk menciummu di surga

jangan kau pergi tinggalkan aku
bawa aku ke mana kau mau
janji ku padamu
jiwa dan ragaku mati pun ku mau

repeat reff

Tsunami Meletus di Kepalaku

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, negeri ini sedang berduka. Dan kedukaan itu tidak hanya dari bencana (fisik) yang datang silih berganti. Namun juga dari sikap sosial yang muncul entah itu sebelum, ketika, atau setelah bencana itu terjadi. Tapi yang utama adalah semoga saudara-saudara kita semua yang sedang tertimpa musibah di beberapa daerah baru-baru ini diberikan  ketabahan, keikhlasan, dan kekuatan untuk menghadapinya. Semoga mereka dan kita semua bisa menerima dan melihat secara lebih luas apa yang ada di balik bencana itu.

Di pihak lain, tokoh kita, Yang Terhormat Bapak Wakil Rakyat yang oleh berbagai pihak disebut sebagai Marzuki Alie, memberikan komentar tentang kasus Mentawai yang mengundang pro dan kontra. “Kalau tidak mau hidup ya silahkan mati saja,” kira-kira bisa saya artikan demikian ucapan beliau. Kalimat yang tidak pantas diucapkan oleh orang sekaliber beliau, apalagi di kondisi yang masih berkabung seperti sekarang ini. “Salah siapa hidup sebagai nelayan dan tinggal di pantai? Kenapa tidak menjadi ketua DPR saja yang sebentar lagi punya gedung baru?” Dan memang benar demikian adanya. Betapa enaknya menjadi anggota dewan. “Kenapa harus sibuk mengurusi rakyat? Toh mereka sudah bisa mengurusi diri mereka sendiri. Para pengungsi juga bisa bertahan hidup sendiri kok, jadi kami bisa berlibur ke Yunani.”

Bagaimana dengan orang no satu di negeri ini? Mungkin karena sangat sedih dan terharu terhadip nasib rakyatnya beliau justru pergi keluar negeri untuk menghilangkan duka, tepat ketika bencana tengah terjadi. Tipikal orang yang seperti saya, “Tidak kuasa saya melihat penderitaan rakyat di Mentawai, Merapi, dan juga Wasior yang dulu itu. Dari pada saya nangis, hayo?” “Nanti lah barang seminggu, dua minggu baru saya nengok ke sana. Biar mereka sudah kembali dari tempat pengungsian, mayat-mayat sudah dibereskan, abu vulkanik sudah tidak ada, dan jalan sudah diperbaiki. Kan repot kalau saya harus nengok sementara kondisi belum kondusif. Ntar kalau saya kena penyakit batuk bagaimana? Palah seluruh rakyat kan yang repot?”

Sedangkan Mbah Maridjan sekarang sudah tidak lagi rosa! Saya juga lo, pengin mati dalam keadaan sujud kepada Sang Kholik. Dan memang susah sih yang kayak begitu itu. Sholat 5 waktu sehari tiap hari juga belum tentu diambil. Ah, memang susah hidup dalam ketidakpastian ini. Nanti dari pada saya mati dalam keadaan main DotA, bagaimana coba? “Eh lu Cumi, pake Chrono, ntar biar dikasih Chain sama si Lych, abis itu gue deh yang nyampah pake ulti gue!” Apa akan lebih baik kalau saya sholat di atas rel kereta api saja? Tapi saya juga tidak mau dong dikatain tolol sama “Bang Jek”.

Sedikit mengutip dari Emha Ainun Nadjib mengenai tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 dalam bukunya (saya lupa judulnya), beliau menjelaskan sudut pandang lain dari bencana itu. Siapa saja korban dari bencana? Apakah korban yang selamat itu yang hidup saja? Selamat dalam hal apa?  Apakah alam memang menjadi pelaku utama dari kekejaman itu, atau hanya sebagai kambing yang dihitamkan oleh manusia? Kalau kita menganggap bahwa kematian adalah akhir dari perjalanan manusia, lantas buat apa kita beriman kepada hari kiamat? akhirat? Setidaknya pandangan itu juga bisa kita jadikan sebagai salah satu acuan sekarang ini.

Dan saya sampai sekarang masih terjebak dalam dunia saya sendiri. Hanya bisa ngomong tanpa melakukan apa-apa. Duh!