Tsunami Meletus di Kepalaku
In
nalillahi wa inna ilaihi roji’un, negeri ini sedang berduka. Dan kedukaan itu tidak hanya dari bencana (fisik) yang datang silih berganti. Namun juga dari sikap sosial yang muncul entah itu sebelum, ketika, atau setelah bencana itu terjadi. Tapi yang utama adalah semoga saudara-saudara kita semua yang sedang tertimpa musibah di beberapa daerah baru-baru ini diberikan ketabahan, keikhlasan, dan kekuatan untuk menghadapinya. Semoga mereka dan kita semua bisa menerima dan melihat secara lebih luas apa yang ada di balik bencana itu.
Di pihak lain, tokoh kita, Yang Terhormat Bapak Wakil Rakyat yang oleh berbagai pihak disebut sebagai Marzuki Alie, memberikan komentar tentang kasus Mentawai yang mengundang pro dan kontra. “Kalau tidak mau hidup ya silahkan mati saja,” kira-kira bisa saya artikan demikian ucapan beliau. Kalimat yang tidak pantas diucapkan oleh orang sekaliber beliau, apalagi di kondisi yang masih berkabung seperti sekarang ini. “Salah siapa hidup sebagai nelayan dan tinggal di pantai? Kenapa tidak menjadi ketua DPR saja yang sebentar lagi punya gedung baru?” Dan memang benar demikian adanya. Betapa enaknya menjadi anggota dewan. “Kenapa harus sibuk mengurusi rakyat? Toh mereka sudah bisa mengurusi diri mereka sendiri. Para pengungsi juga bisa bertahan hidup sendiri kok, jadi kami bisa berlibur ke Yunani.”
Bagaimana dengan orang no satu di negeri ini? Mungkin karena sangat sedih dan terharu terhadip nasib rakyatnya beliau justru pergi keluar negeri untuk menghilangkan duka, tepat ketika bencana tengah terjadi. Tipikal orang yang seperti saya, “Tidak kuasa saya melihat penderitaan rakyat di Mentawai, Merapi, dan juga Wasior yang dulu itu. Dari pada saya nangis, hayo?” “Nanti lah barang seminggu, dua minggu baru saya nengok ke sana. Biar mereka sudah kembali dari tempat pengungsian, mayat-mayat sudah dibereskan, abu vulkanik sudah tidak ada, dan jalan sudah diperbaiki. Kan repot kalau saya harus nengok sementara kondisi belum kondusif. Ntar kalau saya kena penyakit batuk bagaimana? Palah seluruh rakyat kan yang repot?”
Sedangkan Mbah Maridjan sekarang sudah tidak lagi rosa! Saya juga lo, pengin mati dalam keadaan sujud kepada Sang Kholik. Dan memang susah sih yang kayak begitu itu. Sholat 5 waktu sehari tiap hari juga belum tentu diambil. Ah, memang susah hidup dalam ketidakpastian ini. Nanti dari pada saya mati dalam keadaan main DotA, bagaimana coba? “Eh lu Cumi, pake Chrono, ntar biar dikasih Chain sama si Lych, abis itu gue deh yang nyampah pake ulti gue!” Apa akan lebih baik kalau saya sholat di atas rel kereta api saja? Tapi saya juga tidak mau dong dikatain tolol sama “Bang Jek”.
Sedikit mengutip dari Emha Ainun Nadjib mengenai tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 dalam bukunya (saya lupa judulnya), beliau menjelaskan sudut pandang lain dari bencana itu. Siapa saja korban dari bencana? Apakah korban yang selamat itu yang hidup saja? Selamat dalam hal apa? Apakah alam memang menjadi pelaku utama dari kekejaman itu, atau hanya sebagai kambing yang dihitamkan oleh manusia? Kalau kita menganggap bahwa kematian adalah akhir dari perjalanan manusia, lantas buat apa kita beriman kepada hari kiamat? akhirat? Setidaknya pandangan itu juga bisa kita jadikan sebagai salah satu acuan sekarang ini.
Dan saya sampai sekarang masih terjebak dalam dunia saya sendiri. Hanya bisa ngomong tanpa melakukan apa-apa. Duh!

No comments yet.