Think Thank! (part 2)

Hati adalah seonggok daging yang ada di dalam diri manusia yang membuat manusia mempunyai kemampuan untuk merasakan. Dengan kata lain, hati adalah produsen perasaan yang ada di diri manusia. Yang membuat manusia (kata orang) mempunyai sense of humanity.
Namun demikian, ternyata dari seonggok daging tersebut jua lah yang mendasari tindakan-tindakan manusia yang salah. Apa sebab? Karena kalau kita mengikuti permintaan si hati, itu tidak akan pernah ada habisnya. Akan selalu kurang, kurang, dan kurang. Dan keinginan hati tidak akan sanggup kita penuhi.
Dan jika hati menjadi pertimbangan pertama untuk bertindak, resiko untuk mengambil keputusan yang salah akan semakin besar. Karena hati selalu mengutamakan ego pribadi. Kita akan diseret untuk memenuhi semua hal sampai kita merasa terpuaskan (kita berada dalam kondisi nyaman). Jika hal itu terjadi, yang memenuhi diri kita kemudian adalah pembenaran. Pembenaran untuk melakukan segala hal, asalkan keinginan hati bisa terpenuhi.
Itu lah hal paling menakutkan yang jarang diperhatikan oleh orang, dan (maaf beribu maaf) terutama ladies. Mereka akan mencerca dengan kata-kata yang konteksnya “dasar, sudah tidak punya hati nurani” dan segala macam yang berbau dengan itu.
Padahal hati seharunya memperoleh proporsi pertimbangan terendah dalam kehidupan ini. Lantas apa pertimbangan utama? Tentu saja akal. Akal harus bisa menjadi helm bagi hati dengan mekanisme berpikir. Dengan berpikir, kita akan dasar secara logika tentang kebenaran yang objektif, sehingga bisa membatasi keinginan kita. Mana yang boleh, dan mana yang tidak dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang ada di dunia ini.
Oleh karena itu, Management Qolbu itu sangat penting. Tetapi ingat, Qolbu adalah hal yang dimanage, bukan yang memanage. Dalam hal apapun. Jika keinginan hati kita berlebih, maka itu lah yang dinamakan dengan nafsu. Dan bila kita terus menerus mengikuti si nafsu itu, maka timbullah stress, supresi, depresi. Karena saya pernah merasakan hal itu =D.
Hati itu suci, namun selama kita masih hidup, harus di-helm-i dengan akal. Jika tidak, kita akan cepat bertemu dengan yang Maha Suci.
Untuk konteks lebih jelas, silahkan baca surat An-Nur 35.

No comments yet.