Archive for the ‘ Linux ’ Category

Waspada Freeport!!

Sidang kemarin semua anggota DPR berlomba-lomba menyuarakan suaranya. Makanya jadi rame itu ruangan. Padahal kalau hari-hari biasa banyak anggota yang pada mbolos. Yah semoga saja mereka semua bersuara dengan tujuan baik untuk kepentingan rakyat, dan bukan datang hanya untuk uang sangu dari parpol masing-masing. Embuh lah.

Sementara saya hanya seorang pedagang sayur yang justru lebih banyak diam. Mau BBM naik atau tidak, saya diam saja. Itu di luar kapasitas otak saya. Kalau saya ikut-ikut ngomong, saya takut di demo oleh ibu-ibu karena harga sayur naik. Anak-anak banyak yang tidak sehat dan bapak-bapak dimarahi istrinya karena tiap malem tidur cepet karena kekurangan sayuran.

Masih mendingan dari pada Bang Agus, yang 20 tahun jualan nasi padang di perempatan jalan. Baru-baru ini dia disemprot sama juragan lamanya yang baru pulang dari Amerika Serikat United. Sudah 5 tahun itu langganan tinggal di negara Paklik Sam. Jadi suatu ketika dia datang ke warungnya Bang Agus untuk pesen Pizza buat pesta sunatan anaknya, karena semua tamunya adalah bule. Lah, kan kebingungan itu Bang Agus. Nemu IQ seko ngendi iku juragan? Tanya mbah Jiwo penasaran.

Sebelum berangkat ke Amerika Serikat United, juragan itu pernah menyelamatkan Bang Agus dari bangkrut akibat perampokan. Ketika itu semua karyawannya pergi untuk mengantarkan delivery order ke suatu pesta kawinan, maka Bang Agus jaga sendirian. Pas ditinggal sholat dhuha warungnya dimasuki garong. Kasir box yang sedang penuh-penuhnya di akhir bulan disikat. Dan bukan hanya itu saja, ndelalah semua isi etalase diembat juga. Yang ditinggal hanya satu ikat pete.

Sehingga saya merasa wajar saja ketika Bang Agus hanya bisa diam walaupun berkali-kali dicaci-maki juragan itu. Juragan itu merasa tidak terima karena Bang Agus tidak mau melayani pesanan Pizza untuknya dan justru menceramahi Bang Agus, bayangin aja. Dia bilang kalau jaman sekarang persaingan semakin ketat, kalau tidak mengambil kesempatan dan tantangan tidak akan pernah maju. Salah seorang tamunya bahkan akan membantu Bang Agus membuka cabang di Amerika untuk mempromosikan Pizza. Terlebih lagi dia memohon agar Bang Agus tidak mempermalukan dirinya di depan tamu-tamunya dengan menghindangkan rendang, dll. Dan dia bahkan selalu menyempatkan diri untuk mampir ke tempat Bang Agus sebelum berangkat kerja, untuk menanyakan itu.

Saya juga tidak bisa membantu apa-apa ketika Bang Agus berkeluh kesah ke saya. “Saya cuman ingin kerja sederhana aja mas. Nggak usah yang muluk-muluk jualan ke Amerika segala. Asalkan saya seneng njalaninnya, itu sudah cukup,” kata Bang Agus.

Si Bambang temen deket saya dari kampung ngomong kalau Bang Agus itu sebenarnya orangnya sederhana. Di lain pihak, dia tidak dalam posisi yang bisa menolak juragan itu akibat rasa nggak enak. Jadi posisinya yang diem aja itu posisi yang pas.

Sementara itu, Yudho, adikya Bambang, ngomong kalau juragan yang maksa itu juga tidak punya rasa cinta sesama *halah. Lha ngapain kok maksa ndatengin terus. Toh semuanya bisa dilihat dari perilakunya Mas Agus. Jadi tinggal diambil kesimpulan aja. Seolah-olah diiming-imingi buka cabang ke Amerika, padahal sebenarnya si juragan itu yang tidak ingin malu ke tamu-tamunya. Yang bener yang mana? Yudho yang pernah ngicipi sekolah di ITS ngomong, mbok ya jadi orang itu yang tegas. Take it or leave it, bahasa jawanya. Kalau mau ke Mas Agus ya ambil rendangnya, tapi kalau tidak suka redang ya pindah aja ke warung sebelah. Gitu aja kok nggak bisa. Lagian kalau ngebet mau makan Pizza kenapa si juragan itu tidak berusaha jalan-jalan yang agak jauh dikit, sapa tahu nemu itu warung yang namanya Pizza Hut.

Saya pribadi mendukung Bang Agus untuk diam saja. Karena saya juga demikian. Tidak semua keinginan hati kan perlu diomongkan. Karena yang keluar pasti keegoisan. Jadi yang fair aja itu juragan sama Bang Agus. Juragan silahkan bebas mo mencecar Bang Agus dengan ceramah. Dan Bang Agus juga punya kebebasan juga mo ndanggepin atau nggak naggepin ceramah itu. Lha selama ini yang ada sang juragan juga maksa Bang Agus untuk nanggepin ceramahnya. Jadi penderitaan Bang Agus dobel. Tiggal dilihat keihklasan hati juragan itu sampai mana.

Bahkan pepatah mengatakan kalau diam itu emas. Tapi jangan gunakan pepatah itu lagi. Bisa-bisa ditambang Freeport mulutmu nanti. Atau mungkin banyak yang tidak bisa diam sekarang ini soalnya sudah habis disedot Freeport itu emas di mulutnya.

Lha mungkin kalau Bang Agus tidak punya kesanggupan untuk diam karena memperhitungkan semua aspek sosial politik ekonomi, mungkin juragan itu sudah ditabok pake bantal mukanya. Sekarang tinggal nungguin aja itu, apakah nantinya rendang daging kambing kesukaan Bang Agus akan diganti ama Pizza karena modal pake punya juragan. Mbuh, lah. Yang pasti saya tahu isi hati Bang Agus, tapi tidak akan saya omongkan ke siapa-siapa.

SPSS 16 di Ubuntu Maverick

R, dengan huruf kapital, adalah salah satu alat analisis yang ada di Linux. Namun masih belum begitu familiar bagi para penggiat statistik karena memang belum mempunyai GUI. XD Sedangkan pengguna SPSS jauh lebih banyak. Ya, karena lebih mudah (dalam banyak hal). Namun ternyata SPSS juga ada yang untuk Linux. Nah lo.
Dependensi yang dibutuhkan adalah:

  • Kernel 2.6.9.42 or higher
  • glibc 2.3.4 or higher
  • XFree86-4.0 or higher
  • libstdc++5


Pastikan ketika melakukan instalasi Compiz tidak dalam keadaan aktif. Maka akan langsung keluar Wizard Installer seperti di atas. Soal berhasil tidaknya, penulis juga belum tahu. Karena ketika tulisan ini dibuat, proses instalasi SPSS masih berlangsung. =D

OpenSuse Remastering dengan SuseStudio

OpenSuse adalah distro yang dikembangkan oleh komunitas dengan disponsori oleh Novell Inc. Distro ini merupakan salah satu distro besar yang banyak dipakai oleh pengguna linux. OpenSuse menurut distrowatch.com menempati urutan ke tiga di bawah Ubuntu dan Fedora.

Dahulu saya pernah mengupas remastering Ubuntu, sekarang saya ingin mengajak anda untuk mencoba meremaster OpenSuse. Dan yang lebih menantang lagi, sekarang alat yang digunakan adalah tidak lebih dari sebuah browser. Yupz.., meremaster OpenSuse secara online bisa dilakukan berkat bantuan susestudio.com. Kita tinggal mengkustomisasi software yang akan ditambahkan, sekaligus mengganti tampilannya. Setelah itu kita download dan siap dipakai. Menarik, bukan?

Apa yang bisa dilakukan susestudio?

  • Membuat server yang sesuai dan sudah berisi aplikasi sesuai kebutuhan Anda.
  • Menciptakan live CD atau DVD hanya dengan paket-paket dan perangkat lunak yang Anda butuhkan.
  • Membuat yang virtual disk yang siap dijalankan oleh VMware dan Xen.
  • Membuat live USB yang berisi sistem Linux sehingga bisa dibawa ke manapun Anda pergi.
  • Membangun sebuah image harddisk dan bisa digunakan untuk mengkloning.

Hanya satu nilai yang kurang dari susestudio. Dengan statusnya yang masih beta, kita belum bisa bebas untuk mendaftarkan diri. Jadi pendaftaran harus menunggu approval dari pihak susestudio-nya sendiri. Dan kira-kira hal itu membutuhkan waktu satu bulan. Tapi proses menunggu sebanding dengan hasil yang akan kita peroleh. Karena dijamin meremaster dengan susestudio tidak akan mengecewakan.

Jadi silahkan mampir ke http://susestudio.com dan langsung masukkan email anda untuk mendaftarkan diri. Setelah itu, bersabarlah sedikit untuk menunggu email approval.

How to:

  1. Buka http://susestudio.com kemudian login dengan akun yang baru saja anda buat.
  2. Silahkan pilih basis OpenSuse yang ingin anda gunakan. Anda bisa memilih tipe desktop ataupun server. Anda juga harus menentukan apakah akan menggunakan arsitektur 32 bit atau 64 bit. Kemudian jangan lupa memberi nama untuk proyek anda ini. Setelah itu klik Create appliance. Saya mencontohkan dengan memilih tipe desktop.
  3. Masukkan nama proyek anda kemudian klik Switch to the Software tab to continue.
  4. Di sinilah nantinya kita akan bermain menambahkan aplikasi-aplikasi yang kita inginkan agar menjadi installer yang lengkap sesuai dengan yang kita butuhkan.
  5. * Software Sources
    Digunakan untuk menambahkan sumber software (repository) opensuse. Silahkan klik Add repositories kemudian pilih dengan cara menchecklist repository yang ada. Anda bisa menambahkan repo asli ataupun repo dari pihak lain seperti ATI atau NVDIA. Setelah selesai, klik Back to the software overview.
    * Selected Software
    Di bagian ini, anda bisa memilih paket software yang disediakan. Misalnya saja memilih paket Multimedia atau paket Office.
    * Search Software
    Cara lain untuk menambahkan software adalah dengan pilihan ini. Silahkan pilih kategori software yang disediakan, atau cari nama program yang anda inginkan. Dengan fasilitas ini mencari paket akan semakin mudah karena akan disortir sesuai dengan kata kunci yang anda masukkan.

  6. Setelah memilih paket silahkan langsung pindah ke tab Configuration,

a. General
Di sini anda akan diminta untuk mengisi hal-hal berikut:

1.      Default locale. Pilih setting bahasa dan keyboard yang ingin anda gunakan.

2.      Default time zone. Untuk menentukan setting waktu anda.

3.      Network. Konfigurasi jaringan, anda bisa memilih DHCP, static, atau mengkonfigurasinya ketika instalasi.

4.      Firewall. Untuk membuka port ssh dan http di firewall.

5.      Users and groups. Menambah user dan group baru.

b. Personalize

Kita bisa mengubah tampilan background dan logo ketika booting.

1.      Appliance logo. Mengganti logo dengan yang sudah disediakan, atau anda bisa mengupload logo dari komputer anda.

2.      Appliance Background. Mengganti background, anda juga bisa mengupload background anda sendiri.

3.      Preview. Menampilkan contoh hasil kustomisasi.

c. Startup
Anda diberi pilihan untuk menjalankan remaster ini dengan tampilan grafis atau text mode. Selain itu, anda juga bisa menambahkan EULA (End User Licese Agreement) yang anda buat sendiri di menu ini.

d. Server
Digunakan untuk mengkonfigurasi setting MySQL dan menambahkan MySQL dump. Karena kita tidak membuat untuk tipe server, langkah ini bisa dikosongi.

e. Desktop
Anda bisa membuat system menjadi autologin untuk user tertentu. Selain itu, anda juga bisa menambahkan autostart untuk program-program yang anda inginkan.

f. Storage memory
Setting memory dan kapasistas drive yang akan dipakai.

1. Virtual Appliance. Adalah setting untuk virtual drive yang mendukung format virtualisasi VMware dan Xen. Anda diminta untuk menentukan jumlah memory dan juga kapasitas drive yang akan anda pakai.

2. Disk image. Menyediakan pengaturan memory yang akan dipakai oleh livecd.

g. Custom script
Menambahkan script yang akan dijalankan ketika proses build ataupun ketika setiap kali booting. Kita bisa melewati langkah ini.

6. Setelah itu silahkan pindah ke tab Overlay files
Di sini kita bisa menambahkan file-file atau archive dari komputer kita untuk dimasukkan ke direktori tertentu. Kita juga bisa menambahkan file dari url di internet.
Tahap terakhir dari remaster ini adalah build. Silahkan pilih format yang akan anda buat. Anda bisa memilih

a. Disk Image untuk membuat image untuk hardisk atau usb flash.

b. Live CD/DVD iso bisa langsung dibakar dan dicoba untuk merasakan remaster sebelum menginstall ke komputer.

c. VMware virtual disk bisa langsung dijalankan menggunakan virtualisasi VMware

d. Xen virtual disk, sama seperti pilihan sebelumnya, tetapi menjalankannya dengan virualisasi Xen.

Untuk mudahnya, kita membuat Live CD/DVD iso terlebih dahulu saja. Silahkan isi versi dengan isian terserah anda =D.

7. Tahap akhir adalah download project yang sudah selesai dibuild.

Notice

  • Selama proses remaster ini jangan lupa untuk selalu melihat “status bar” di sebelah kiri, karena biasanya akan muncul tips dan warning message kalau kita melakukan kesalahan.
  • Project yang sudah dibuild hanya akan bertahan satu minggu untuk anda download karena keterbatasan storage yang dipunya oleh susestudio. Tetapi jangan kuatir, anda akan tetap bisa membuild archive project sewaktu-waktu.

Maverick Meerkat + Microsoft Office 2007

Ternyata Ubuntu 10.10 dengan code name MM, dikasih nama Maverick Meerkat, dan bukan Misbahul Munir seperti yang saya harapkan. =) Dan sampai saat ini, Open Office saya rasa belum bisa menggantikan kehandalan Office buatan Microsoft.

Jadi setelah melakukan tweaking terhadap Ubuntu yang saya install di laptop yang bukan punya saya, saya langsung berusaha menginstall Office 2007. Wine 1.2.1 ternyata sudah lebih canggih dari yang sebelumnya. Jadi tidak perlu repot-repot untuk tweaking wine dulu. Hanya perlu 2 cara untuk menginstall Office 2007 ini.

1. Install MSXML3 lewat winetricks

wget http://www.kegel.com/wine/winetricks
winetricks msxml3

2. Install Office 2007 Sekarang tinggal menjalankan installer Office 2007, dan bisa anda lakukan lewat GUI maupun terminal.


Nah, keliatan kan Arumi Bachsin semledot banget, XD

Lucid Lynx Release Party

Why Linux Doesn’t Sucks

Mungkin topik seputar Linux belum terlalu sering dibahas, bila dibandingkan dengan topik tentang Windows. Salah satu faktor yang menentukan adalah kepopuleran Windows yang memang lebih dari pada Linux itu sendiri. Entah itu karena Windows lahir terlebih dahulu sehingga lebih dikenal masyarakat daripada Linux, ataukah karena memang Windows lebih mudah digunakan. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menentukan siapa yang lebih baik dari dua Operating System yang ada itu. Namun lebih ditujukan sebagai suatu wacana untuk menambah wawasan dan membuka pola pikir kita semua tentang adanya Operating System selain Windows yang tersedia dan bisa kita jadikan sebagai alternatif sesuai dengan kebutuhan kita.

Ternyata linux berbeda dari Windows!! Ya iya lah… =D. Kebanyakan orang yang pertama kali menggunakan Linux, pasti langsung menjadikan Windows sebagai benchmark atau standar penilaian suatu operating system yang bagus. Baik itu dari segi tampilan, penggunaan, instalasi software third party, bahkan sampai ada yang mengatakan “ loh, kok menunya beda ya?”. Dan tentu saja itu adalah dasar yang tidak valid jika digunakan sebagai alasan untuk tidak mau menggunakan Linux. Kalau ingin fair, silahkan melihat Linux sebagai hal yang baru, sama ketika pertama kali mengenal komputer dan juga Windows. Anggap saja Windows itu seolah-olah tidak ada.

Hal baru, harus belajar lagi. Kebanyakan pengguna komputer tidak mau tahu tentang masalah teknis. Mereka cenderung menolak untuk mempelajari hal baru. Mereka hanya ingin melakukan tugas-tugas mereka, tanpa perlu khawatir tentang cara kerja komputer bekerja dan seminimal mungkin mempelajari sesuatu yang baru.

“Wah saya sudah tidak mempunyai waktu untuk belajar.” Ingat, hidup adalah belajar, coy. Tidak ada kata rugi untuk mempelajari hal yang baru dalam kehidupan kita. Analogikan saja dengan teknologi ponsel. Berjuta-juta pengguna tidak pernah komplain akan perbedaan cara pengoperasian ponsel merk A sampai ponsel merk Z. Dan coba perhatikan, para pengguna tersebut tetap selalu bisa melakukan aktivitas telepon dan sms, bukan? Lantas kenapa kita tidak bisa mempraktekkan dalam kehidupan berkomputasi? Selain itu, belajar tidak dimulai dari nol. Walaupun perintah-perintah yang ada memang berbeda, namun secara umum mempunyai fungsi yang sama. Sebagai pengguna komputer, tentu kita mengetahui istilah-istilah yang berkaitan dengan komputer, bukan? Apakah kita akan terus mempersoalkan perbedaan penggunaan kata reboot dengan restart?

Saya tidak ingin membeli pakaian, kenapa harus memilih distro? Sebenarnya yang dimaksud dengan Linux adalah kernel/inti operating systemnya saja. Sedangkan distro linux adalah cara penyajian kernel linux tersebut dengan ditambahi racikan paket-paket (baca : program) dari proyek open source lain, seperti Window Manager, Office Suit, Web Browser, System Administrasi, dan aplikasi-aplikasi lain yang dikembangkan secara terpisah guna mendukung kompatibilitas dan usabilitas dari linux itu sendiri.

Timbul pertanyaan baru lagi. Lantas saya harus memilih distro yang mana? Terlalu banyak distro membuat saya bingung. Apakah benar demikian? Coba kita lihat dari sudut pandang seorang calon pembeli di pasar tradisional. Setiap kita lewat di depan suatu kios, langsung disambut dengan kata-kata khas, “mau cari apa mas/mbak?” Apakah kita langsung mampir dan membeli barang yang kita inginkan? Tentu saja tidak. Di pasar tradisional, kita bebas memilih dan menawar barang. Kita sebagai calon pembeli mempunyai bargaining power yang kuat karena ada banyak pihak yang menjual barang sejenis. Dan terlebih lagi, kita bisa bebas untuk pindah dari satu kios ke kios lain, sampai kita menemukan barang yang cocok dengan harga yang cocok pula. Perumpamaan tadi juga berlaku dalam memilih distro linux. Apakah suatu distro memang sesuai dengan apa yang kita butuhkan atau tidak?

Distro yang cocok dengan saya seperti apa? Sebenarnya semua distro Linux bisa kita install paket-paket yang sama. Namun saya yakin, orang seperti saya yang “tidak sempat” untuk mencari berbagai macam source code yang tersebar di internet akan memilih semboyan “doing something easy way”. Dan karena mengetahui tipikal kebanyakan orang yang tidak mau repot, pihak pembuat distro juga semakin berinovasi menawarkan hal yang mempermudah pengguna.

Jika anda adalah pekerja kantoran dan berpikir, yang saya butuhkan adalah aplikasi office, kadang web browser untuk sekedar mengupdate status facebook ketika senggang, dan printer bisa digunakan untuk membuat report bulanan, maka anda bisa menggunakan Ubuntu Dekstop atau OpenSUSE. Jika anda adalah abg yang selalu memutar mp3 dan video di sela kesibukan anda, silahkan pilih distro yang langsung secara default menyediakan codec multimedia, seperti BlankOn ,Linux Mint, atau PClinuxOS. Jika anda adalah seorang administrator jaringan atau developer yang tidak mempemasalahkan tampilan desktop, anda bisa memilih Debian, Ubuntu Server, CentOS atau Fedora Core.

Untuk memulai mempelajari linux, pilihan distro yang besar karena mempunyai komunitas yang besar. Linux berkembang dari komunitas penggunanya. Kalau diistilahkan dengan demokrasi di negara ini, Linux adalah “dari komunitas, oleh komunitas, dan untuk komunitas.” Komunitas-komunitas Linux yang besar di Indonesia diantaranya adalah komunitas Ubuntu dan OpenSUSE. Sedangkan bagi anda yang menganggap solusi-solusi dari komunitas kurang membantu dan kadang kurang bisa mengatasi masalah yang mendesak, silahkan membeli support di perusahaan-perusahaan penyedia support untuk linux. Perusahaan yang menyediakan support yang ada antara lain, Red Hat, Novell dengan SLES-nya, dan juga Canonical dengan Ubuntu-nya.

Apa itu dependensi (prasyarat) dan apa pula yang dimaksud denga repositori? Dependensi adalah persyaratan yang ada di antara paket-paket linux. Misalnya saja seperti ini, paket B harus terinstall terlebih dahulu sebelum kita menginstall paket C. Persyaratan tersebut berlaku karena Linux berusaha untuk mencipatakan sistem yang efisien. Di mana selain menghemat kapasitas drive penyimpanan, juga sekaligus menghemat resource sistem yang digunakan ketika sistem berjalan. Hal tersebut bisa terjadi karena file-file yang menjadi dependensi tadi bisa dimanfaatkan oleh lebih dari satu proses. Jadi bisa lebih efisien, bukan?

Ada ribuan paket yang telah siap untuk diinstal Linux anda dan disimpan dalam arsip perangkat lunak (repositori) dan siap untuk diinstal lewat jaringan Internet. Dengan adanya repositori, menjadikan instalasi program-program baru menjadi pekerjaan yg mudah.

Dengan bantuan tool-tool installer yang powerfull di linux (Red Hat dan turunannya dengan YUM, Debian dan turunannya dengan apt-get, SUSE dengan yast), kita bisa langsung menginstall aplikasi tanpa perlu memusingkan dependensinya. Karena tool-tool tersebut secara otomatis akan mencari dan menginstalkan paket yang menjadi prasyaratnya.

Untuk mengenal Linux, kita harus selalu tersambung dengan internet? Sekarang hal tersebut bukan lagi menjadi kendala. Di sekolah, kampus, kantor, bahkan di cafe sekalipun sudah banyak yang menyediakan hot spot. Kita bisa terhubung dengan internet menggunakan jaringan wi fi. Jadi semakin mudah bagi kita untuk menginstall aplikasi bagi Linux kita dari repositori yang sudah disediakan masing-masing distro.

Untuk pengguna rumahan yang memang tidak memiliki akses internet sama sekali, jangan berkecil hati. Anda bisa membeli repositori dalam bentuk DVD. Namun untuk saat ini hanya Ubuntu, OpenSUSE, dan PClinuxOS yang menyediakan DVD repositori. Untuk info lebih lanjut, silahkan bermain ke juragan.kambing.ui.edu, toko.baliwae.com, atau toko-toko online lain yang menyediakan Linux.

Driver dan yang sejenisnya? Untuk hardware-hardware terbaru tidak ada masalah yang berarti dalam hal driver. Setelah menginstall Ubuntu Jaunty di Laptop keluaran 4 tahun yang lalu pun, VGA, Sound Card, Lan Card langsung bisa jalan dengan baik. Kalaupun belum otomatis kedetect, coba saja cari driver yang kompatible di repositorinya.

Tetapi selalu saja, orang-orang membenci dan mendiskriminasikan hal-hal yang baru dan dianggap berbeda. Walaupun secara sadar kita semua tahu, bahwa tingkat pengamanan sistem Linux lebih bagus dibandingkan Windows. Hal tersebut adalah imbas dari ribuan pasang mata (komunitas) yang mengawasi vulnerabilitas Linux itu sendiri. Perbaikan akan cepat dilakukan begitu ada celah yang ditemukan.

Jika anda merasa tertarik, silahkan install komputer anda dan buat dual booting dengan Linux. Gunakan Linux jika anda mempunyai waktu luang untuk sekedar melakukan oprek-an kecil. Jika anda tetap membenci Linux, secara tidak langsung anda juga membenci ribuan orang yang tergabung dalam komunitas yang berusaha untuk mengembangkan alternatif yang bersifat free (bebas, bukan gratis) bagi mereka yang membutuhkan. Dan sekali lagi, jika anda membenci Linux, jangan gunakan Linux karena memang tidak ada seorangpun yang memaksa anda untuk menggunakannya. ^^

Ubuntu 9.10 VS OpenSuse 11.2

Pertarungan sengit antara dua kubu besar telah terjadi dalam beberapa hari terakhir. Walaupun agak telat gak papa deh, yang penting belum kadaluarsa. Rilis Ubuntu 9.10 a.k.a Karmic Koala hampir berbarengan dengan OpenSuse 11.2. Kira-kira manakah yang … (silahkan dilanjutkan sendiri)?
Seperti biasanya, Ubuntu adalah distro yang selalu dicoba pertama kali. Dengan tampilan loading sewaktu boot ala Wind7 yang menurut saya agak aneh, karena kita jadi nggak tahu tu booting prosesnya udah sampe mana. Yang ada cuman kelap kelip doank =D. Tapi sebenernya itu bukan masalah besar karena booting Ubuntu hanya memakan waktu 20an detik sampai nongol desktopnya (di komputer saya). Selanjutnya adalah jumlah wallpaper bawaan yang ditambah. Menurut temen-temen yang coba sih katanya masih ada beberapa bug yang saya juga belum jelas karena sampai saat ini masih belum nemu. Yup, segitu dulu aja reviewnya untuk Ubuntu, sambil nunggu kiriman dari Pak De Shuttleworth.
Sedangkan kabar tentang OpenSuse 11.2 saya dapat dari nara sumber terpercaya kita, suhu dwilicious. Satu nilai plus yang paling membanggakan buat beliau adalah sekarang kalau muter video dengan resolusi tinggi semacam mkv dan avi sudah tidak putus-putus.
Anda mau mencoba yang mana? Yang jelas saya sekarang bermain dengan CentOS 5.4 =P.

Inteprid Release Party Gratissssssss

irp

irp

My Ubuntu Desktop

Setelah melihat, menimbang dan mengoprek Ubuntu dalam kurun waktu satu minggu terakhir, akhirnya Desktop saya berubah tampilanya seperti ini.

Resepnya adalah:
1. Tema MacOS dari Mac4lin
2. Wallpaper ragnarok dari google
3. Applet dengan Screenlets
4. Dock dengan Avant Window Navigator

Ubuntu 8.04 Hardy Heron

Let’s Get the Party Started
Let’s Roll
Or Whatever lah :-D pokoknya mari kita rayakan kedatangan Ubuntu Hardy Heron. Sekarang saya baru bisa mencicipi rasa baru ubuntu ini (terlambat 6 hari T_T). Tapi it’s ok. Yang penting dah nyobain.
Mari kita membahasnya. Setelah di unduhkan lagi oleh akang kita yang baik hati (baca sumodirjo) sebelum maghrib langsung membakar Iso Hardy. Dan ternyata setelah diboot, kok yang muncul cuman teks mode?? Hahahaha, dan ternyata saya salah membakar =P. Bukannya versi desktopnya melainkan yang alternate. Yah, dengan sedikit kecewa langsung tetap saya lanjutkan untuk meginstallnya. Dan ternyata menginstall pake alternate tidak lebih susah kok.
Setelah saya singkat, instalasi berhasil dengan baik walaupun tadi sempet uring-uringan segala. Kayaknya si Hardy lebih meyakinkan deh dari pada kakanya Gutsy. Di komp yang sama ketika saya mencoba Gutsy, kinerjanya payah banged, lemot, dll. Tapi kini saya mencoba Hardy lebih enak.
Sama juga seperti Gutsy kemarin, driver VGA langsung kedetect dan compiz langsung nyala walaupun kata temen-temen di milis banyak yang eror drivernya setelah upgrade. Tapi saya tidak upgrade dhing =D.
Ingin mencoba firefox 3 tapi agak sedikit kecewa karena belum ada flash playernya. Alhasil langsung nguthek-uthek Synaptic and ngubah reponya. Tetapi saya kaget, kok yang di negara Indonesia adanya cuman mirror indika ?? Ya sudahlah dari pada gak bisa. Langsung saya refresh tu synaptic. Eh ternyata masih ada beberapa file yang tidak ada. Langsung aja edit manual /etc/apt/sources.list
pake gedit (soalnya gak biasa pake vi di ubuntu =p). Langsung diarahkan di kambing.
repo ubuntu
Setelah itu install compiz fusion manager. Dan tampilannya membuat menggiurkan. Wah jadi jatuh cintrong ma Ubuntu 100% nee… Trs PClinuxOS saya gimana???
cube ubuntu