Archive for the ‘ My Life ’ Category

Oh Shit!

Buka wordpress langsung ada peringatan, Your Browser is out of date!

Good Morning, Hide

the scene you accept and you see
it’s easy for me to understand
it must be the same as mine
why are not they tired?
why are not they tired?
I don’t do the thing like that
I just do it instead

If a morning starts at the moment
when you wake up
it has been morning till now
I don’t need a night
I cannot define this place
Except a certain additional value
Everything is unnecessary

It’s ok, if your destination is the same
The scene will never change

The scene you accept and you see
It’s easy for me to understand
It must be the same as mine
The scene they accept and they see
It’s different from mine, I don’t imagine
I don’t do the thing like that
I just do it instead

It seems it has been morning
I’ll keep this morning no matter
I spend much time, I go far away
i do’nt need a night yet
I can take it like this
They will keep their night forever more
You don’t need the night at this moment

By the time when the morning turns into the moon
My action will be harmonized

The scene you accept and you see
It’s easy for me to understand
It must be the same as mine
The scene they accept and they see
it’s different from mine i don’t imagine
I don’t do the thing like that
The morning hides all

Why did not you show it?
Why did not you notice it?
Where is your scene from everything?
please tell me now
Why did not you have it?
Why did not you repeat it?
I don’t do the thing like that
I just do it instead

(Yes, everything is an imagination)
(Yes, it’s also a realization )

Why did not you show it?
Why did not you notice it?
Why did not you show it?
Why did not you notice it?
Why did not you have it?
Why did not you repeat it?
I don’t do the thing like that
Wish I’ve done it instead…

Bongkar | Iwan Fals #NowPlaying

Kalau cinta sudah di buang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang di perbudak jabatan

(*) O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar
O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar

Sabar, sabar, sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Kembali ke : (*)

Reff I :
Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan
Hentikan jangan di teruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar
O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar

Reff II :

Di jalan kami sandarkan cita-cita
Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Kembali ke: (*), Reff I, Reff II

Gajah Mabur

Ku Tak Percaya | Letto

Janji kala itu yang terucap
Amat sangat merdu
Yang terdengar begitu
Menggebu jiwa
Coba lagi kau katakan kata itu
Dulu kau ucapkan
Atau perlu untuk kuingatkan lagi

Reff :
Kata kata tak’kan pernah punya makna
Ketika hati tak bicara
Jangan kau berikan padaku
Mimpi mimpi surgamu
Jangan kau tawarkan padaku
Keindahan yang semu

Tanpa itu aku mampu
Menjalani hidupku
Dan ku katakan kepadamu kata hatiku
Ku tak percaya

Ooohh…
Kamulah pahlawanku
Yang mengaku orang nomor satu
Yang katanya mampu menghapuskan sedihku

Oooh…
Kalau itu yang kau bilang
Coba lagi kau kumandangkan
Janji janji yang engkau banggakan itu

Back to Reff

Ternyata benar, ada yang bilang, omongan yang berasal dari dalam hati akan langsung kena ke hati juga. Sedangkan yang berasal dari mulut hanya perlu sampai berhenti di telinga.

Makanya harus hati-hati liat omongan. Ojo-ojo apus-apus ningan dilebokke ati. Mampus lah kau.

Tapi tep, Ku Tak Percaya #sikap #eh #jareSabrang

Waspada Freeport!!

Sidang kemarin semua anggota DPR berlomba-lomba menyuarakan suaranya. Makanya jadi rame itu ruangan. Padahal kalau hari-hari biasa banyak anggota yang pada mbolos. Yah semoga saja mereka semua bersuara dengan tujuan baik untuk kepentingan rakyat, dan bukan datang hanya untuk uang sangu dari parpol masing-masing. Embuh lah.

Sementara saya hanya seorang pedagang sayur yang justru lebih banyak diam. Mau BBM naik atau tidak, saya diam saja. Itu di luar kapasitas otak saya. Kalau saya ikut-ikut ngomong, saya takut di demo oleh ibu-ibu karena harga sayur naik. Anak-anak banyak yang tidak sehat dan bapak-bapak dimarahi istrinya karena tiap malem tidur cepet karena kekurangan sayuran.

Masih mendingan dari pada Bang Agus, yang 20 tahun jualan nasi padang di perempatan jalan. Baru-baru ini dia disemprot sama juragan lamanya yang baru pulang dari Amerika Serikat United. Sudah 5 tahun itu langganan tinggal di negara Paklik Sam. Jadi suatu ketika dia datang ke warungnya Bang Agus untuk pesen Pizza buat pesta sunatan anaknya, karena semua tamunya adalah bule. Lah, kan kebingungan itu Bang Agus. Nemu IQ seko ngendi iku juragan? Tanya mbah Jiwo penasaran.

Sebelum berangkat ke Amerika Serikat United, juragan itu pernah menyelamatkan Bang Agus dari bangkrut akibat perampokan. Ketika itu semua karyawannya pergi untuk mengantarkan delivery order ke suatu pesta kawinan, maka Bang Agus jaga sendirian. Pas ditinggal sholat dhuha warungnya dimasuki garong. Kasir box yang sedang penuh-penuhnya di akhir bulan disikat. Dan bukan hanya itu saja, ndelalah semua isi etalase diembat juga. Yang ditinggal hanya satu ikat pete.

Sehingga saya merasa wajar saja ketika Bang Agus hanya bisa diam walaupun berkali-kali dicaci-maki juragan itu. Juragan itu merasa tidak terima karena Bang Agus tidak mau melayani pesanan Pizza untuknya dan justru menceramahi Bang Agus, bayangin aja. Dia bilang kalau jaman sekarang persaingan semakin ketat, kalau tidak mengambil kesempatan dan tantangan tidak akan pernah maju. Salah seorang tamunya bahkan akan membantu Bang Agus membuka cabang di Amerika untuk mempromosikan Pizza. Terlebih lagi dia memohon agar Bang Agus tidak mempermalukan dirinya di depan tamu-tamunya dengan menghindangkan rendang, dll. Dan dia bahkan selalu menyempatkan diri untuk mampir ke tempat Bang Agus sebelum berangkat kerja, untuk menanyakan itu.

Saya juga tidak bisa membantu apa-apa ketika Bang Agus berkeluh kesah ke saya. “Saya cuman ingin kerja sederhana aja mas. Nggak usah yang muluk-muluk jualan ke Amerika segala. Asalkan saya seneng njalaninnya, itu sudah cukup,” kata Bang Agus.

Si Bambang temen deket saya dari kampung ngomong kalau Bang Agus itu sebenarnya orangnya sederhana. Di lain pihak, dia tidak dalam posisi yang bisa menolak juragan itu akibat rasa nggak enak. Jadi posisinya yang diem aja itu posisi yang pas.

Sementara itu, Yudho, adikya Bambang, ngomong kalau juragan yang maksa itu juga tidak punya rasa cinta sesama *halah. Lha ngapain kok maksa ndatengin terus. Toh semuanya bisa dilihat dari perilakunya Mas Agus. Jadi tinggal diambil kesimpulan aja. Seolah-olah diiming-imingi buka cabang ke Amerika, padahal sebenarnya si juragan itu yang tidak ingin malu ke tamu-tamunya. Yang bener yang mana? Yudho yang pernah ngicipi sekolah di ITS ngomong, mbok ya jadi orang itu yang tegas. Take it or leave it, bahasa jawanya. Kalau mau ke Mas Agus ya ambil rendangnya, tapi kalau tidak suka redang ya pindah aja ke warung sebelah. Gitu aja kok nggak bisa. Lagian kalau ngebet mau makan Pizza kenapa si juragan itu tidak berusaha jalan-jalan yang agak jauh dikit, sapa tahu nemu itu warung yang namanya Pizza Hut.

Saya pribadi mendukung Bang Agus untuk diam saja. Karena saya juga demikian. Tidak semua keinginan hati kan perlu diomongkan. Karena yang keluar pasti keegoisan. Jadi yang fair aja itu juragan sama Bang Agus. Juragan silahkan bebas mo mencecar Bang Agus dengan ceramah. Dan Bang Agus juga punya kebebasan juga mo ndanggepin atau nggak naggepin ceramah itu. Lha selama ini yang ada sang juragan juga maksa Bang Agus untuk nanggepin ceramahnya. Jadi penderitaan Bang Agus dobel. Tiggal dilihat keihklasan hati juragan itu sampai mana.

Bahkan pepatah mengatakan kalau diam itu emas. Tapi jangan gunakan pepatah itu lagi. Bisa-bisa ditambang Freeport mulutmu nanti. Atau mungkin banyak yang tidak bisa diam sekarang ini soalnya sudah habis disedot Freeport itu emas di mulutnya.

Lha mungkin kalau Bang Agus tidak punya kesanggupan untuk diam karena memperhitungkan semua aspek sosial politik ekonomi, mungkin juragan itu sudah ditabok pake bantal mukanya. Sekarang tinggal nungguin aja itu, apakah nantinya rendang daging kambing kesukaan Bang Agus akan diganti ama Pizza karena modal pake punya juragan. Mbuh, lah. Yang pasti saya tahu isi hati Bang Agus, tapi tidak akan saya omongkan ke siapa-siapa.

Letto | Permintaan Hati

For Marsha, My light.
there isn’t ….

Just knew that the guy got some disease that can not be cured. So he left her because he didn’t want to hurt her by knowing that he is dying in such. What a guy.

But in Marwan’s case, Marwan felt that he wasn’t appropriate for Marsha because he wasn’t good enough for her. He was a bad bad guy. He got so many troubles because of that. So, Marwan will try to keep at the distance on her, and saying:
“Marsha, Marwan is sorry.”

Jibril Mampir Untuk Bilang “Neraka Ni Ye…”

Pernah suatu ketika ada dosen yang muterin video mengenai alam semesta. Pertama kali diputerin tentang tata surya, betapa besarnya Bumi jika dibandingkan dengan Merkurius. Terus masih di dalam tata surya sendiri, ternyata bumi kalah sama Saturnus dan Jupiter. Dibandingkan dengan matahari, kedua planet kakak beradik itu kalah sama Matahari. Terus berulang sampai ke Antares. Di level itu Matahari hanya sebatas titik jika dibandingkan dengan Bola Golf Antares. Terus pertanyaan yang keluar, bumi seberapa di level itu? Dan kesimpulannya akhirnya seperti yang sudah saya duga, manusia seberapa? Karena waktu itu saya masih lebih bodoh dari sekarang, maka saya manggut-manggut saja takjub.

Kalau saya dihadapkan dengan kondisi seperti itu lagi, saya akan langsung ngacung dan mengatakan sependapat dengan beliau. “Iya Pak, saya setuju! Dengan batu atau gunung pun, manusia kalah besar. Tapi apa ya logis jika manusia dibandingkan dengan seonggok batu atau gunung? Anda tertipu jika hanya membandingkan dengan ukuran fisik, jasad pak!”

Benar manusia itu makhluk yang kecil, mikrokosmos jika menggunakan ukuran fisik. Tetapi secara spiritual, kita ini makhluk makrokosmos. Karena Tuhan pernah berkata, kuciptakan Manusia sebagai Pemimpin. Jadi logis dong kalau yang memimpin lebih besar dari yang dipimpin. Kata pak kyai demikian.

Jadi jangan bangga dengan fisik, kalau ternyata secara spiritual masih bolong-bolong. Bisa diruntut kalau ternyata yang paling rendah dari manusia adalah fisiknya. Busuknya jasad ketika mati itulah tandanya. Sedangkan jiwanya yang suci langsung kembali ke Sang Pencipta. Bahkan di level kerinduan tertentu, yang memisahkan manusia dengan Tuhan hanyalah sebatas tipisnya kematian.

Maka tertipu sudah, karena bagiku kemerdekaan fisik tidak begitu penting. Yang penting aku masih bisa bebas untuk melakukan apa saja dengan hatiku. Jadi silahkan ambil fisikku, karena akan tetap merdeka batinku. Namun tidak perlu khawatir. Aku besar, jangankan benda fisik seperti halnya gunung yang cuman sekecil itu, masalah SBY, Anas, kenaikan BBM, yang semuanya itu melebihi Antares pun masih bisa aku masukkan ke dalam diriku. Paling tidak akan aku cari sela-sela pojokan hatiku untuk memasukkan semua masalah itu. Karena aku sangat besar, aku tidak perlu membuang semua hal-hal itu, semuanya bisa aku tampung.

Mungkin belum bisa mencapai tingkatan Rabiah Al-Adawiyah yang memohon kepada Tuhan agar badannya dibesarkan sampai memenuhi neraka. Sehingga dia sendirian yang mengisi neraka, sedangkan orang lain tidak ada yang bisa dimasukkan ke neraka lagi.

Namun bagiku, jangankan kematian atau masuk neraka, kehidupan yang seperti neraka pun akan aku jalani dengan tertawa-tawa. Jadi silahkan bagi yang mau menebar surga-surga di atas neraka diriku. Tak perlu kalian sok pedulikan aku, karena kalian akan tetap kusambut dengan tawa.

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari langit, mungkin malaikat Jibril,
“Hahahahahaha, Modaro su su, Emplok en dewe kui neroko.”

Bukan Oemar Bakri

Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
S’lalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang

Dengan raut muka marah kawan yang sudah lama tak bersua itu langsung naik ke lantai dua tempat simbah tidur. Dia tengok kolong tempat tidur, tidak ada. Langsung loncat ke dapur tempat bik Ijah pembantuku yang geleng-geleng ketika ditanyai keberadaan sumber kebisingan itu. Dan setelah dua kali lagu itu berputar, barulah dia temukan si pembuat bising yang ternyata adalah ringtone dari HandPhone di tas kuliahku.
Tanpa banyak ba bi bu, dia lempar HandPhone itu ke entah lah posisi pastinya di mana, yang pasti di lantai di kamarku. Belum sempat aku marah karena HandPhoneku dibanting, dia langsung nyerocos,
“Umurmu berapa sekarang?”
“Emang kenapa bawa-bawa umur?” aku balas dengan pertanyaan juga karena terbawa emosi.
Tanpa menjawab dia ganti pertanyaannya “Semester berapa?”
Karena tidak mau memperkeruh suasana aku jawab sekenanya “Sudah lulus, tinggal wisuda. Ada masalah?”
“Ya, masalah besar.”
“Apa?” Cecarku.
“Ini” sambil tangannya mengambil HandPhone di lantai dan kemudian melemparkannya lagi. Kali ini ke tembok di samping pintu.
“Anjrit! Apa-apaan lagi ni?” Umpatku.
“Sebagai mantan santri kamu harusnya malu,” sergahnya. “Sudah khatam berkali-kali masih juga buta kau ini.”
“Aku bisa lihat mukamu yang menjijikkan itu dengan jelas,” bantahku.
“Cuh!” Ludahnya mampir ke wajahku. “Kau sudah lupa apa yang pertama kali diwahyukan kepada Nabimu?”
“Iqro’!” jawabku cepat.
“Ya!” Teriaknya. “Bacalah dengan nama Tuhanmu. Bukan bertanya dengan nama Tuhanmu.”
“Lantas apa hubungannya denganku?”
“Kamu sudah mengalami kemunduran otak selama berabad-abad. Akal yang dititipkan oleh Tuhanmu engkau biarkan menganggur tak terpakai.”
“Apa contohnya?” Sanggahku.
“Ya ini, dari tadi ini, bukti nyatanya ini.”
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Semua pertanyaan goblokmu ini buktinya.”
Aku terdiam.
“Bacalah menggunakan akalmu. Bukan hanya Qur’an, tapi juga semua hal disekeliling kamu itu dibaca.” “Baca lingkungan kamu, tempat kuliahmu, tetanggamu, semuanya yang ada di dunia ini dibaca!” nadanya mulai turun. “Baca kehidupan kamu, kemudian olah pake akal dan hatimu untuk kemudian merumuskan jawaban atas pertanyaan kehidupanmu.”
Aku masih diam mikir.
“Karena aku tahu kamu itu goblok, aku kasih contoh gini. Kalau kamu sudah tahu langit mendung, ya tinggal mikir untuk bawa payung karena nanti pasti hujan, beres. Jangan palah tanya ke orang-orang apakah ini nanti hujan ya? Gak perlu kamu minta jawaban dari orang lain, karena belum tentu orang yang kamu tanyain itu paham. Jawaban ada di dalam dirimu sendiri. Tinggal kamu peka atau tidak untuk melihat jawaban-jawaban yang ada di sekitar kamu. Dan terakhir kamu mau menerima jawaban-jawaban itu atau tidak. Misal kamu mengharapkan panas agar bisa mencari rumput untuk makan kambing, tapi kenyataan mendung, terus kamu nekat ke lapangan, ya sudah tinggal menanti basah tubuhmu aja.”
Aku masih diam.
“Karena aku juga bukan gurumu, maka tidak ada suatu kewajiban apapun bagiku untuk memberitahukan kamu, Guru yang paling baik itu adalah diri sendiri. Temukan semua jawaban dari dalam dirimu.” ucapnya sambil ngloyor ke ruang makan.
Sambil mikir aku berjalan ke dekat pintu untuk mengambil HandPhoneku. Untung saja HandPhoneku bandel, walau sudah dibanting berkali-kali tetap masih bisa nyala. Dan langsung aku berteriak ke kawanku itu,
“Oh, Kau pasti tidak menyukai Iwan Fals.”

untitled

Management Issue

Management Issue

Beritaku muncul di koran-koran
Wajahku menghiasi majalah mingguan
Bahkan di kliping koran loak-an

Namun,
Ketika telah kau temukan diriku gila

Maka keluar sumpah serapah mulai dari sampah sampai teman-temannya jerapah
Maka terucap kutukan sampai tujuh turunan
Kau kirim ke alamat rumahku

Sedangkan,
Ribuan kali
teriakanku tak mampu menembus
lagu yang mendayu
dari headset yang menutupi telingamu

“Aku ini Gila!”

Page 1 of 1112345...Last »