Archive for the ‘ isenk ’ Category

Waspada Freeport!!

Sidang kemarin semua anggota DPR berlomba-lomba menyuarakan suaranya. Makanya jadi rame itu ruangan. Padahal kalau hari-hari biasa banyak anggota yang pada mbolos. Yah semoga saja mereka semua bersuara dengan tujuan baik untuk kepentingan rakyat, dan bukan datang hanya untuk uang sangu dari parpol masing-masing. Embuh lah.

Sementara saya hanya seorang pedagang sayur yang justru lebih banyak diam. Mau BBM naik atau tidak, saya diam saja. Itu di luar kapasitas otak saya. Kalau saya ikut-ikut ngomong, saya takut di demo oleh ibu-ibu karena harga sayur naik. Anak-anak banyak yang tidak sehat dan bapak-bapak dimarahi istrinya karena tiap malem tidur cepet karena kekurangan sayuran.

Masih mendingan dari pada Bang Agus, yang 20 tahun jualan nasi padang di perempatan jalan. Baru-baru ini dia disemprot sama juragan lamanya yang baru pulang dari Amerika Serikat United. Sudah 5 tahun itu langganan tinggal di negara Paklik Sam. Jadi suatu ketika dia datang ke warungnya Bang Agus untuk pesen Pizza buat pesta sunatan anaknya, karena semua tamunya adalah bule. Lah, kan kebingungan itu Bang Agus. Nemu IQ seko ngendi iku juragan? Tanya mbah Jiwo penasaran.

Sebelum berangkat ke Amerika Serikat United, juragan itu pernah menyelamatkan Bang Agus dari bangkrut akibat perampokan. Ketika itu semua karyawannya pergi untuk mengantarkan delivery order ke suatu pesta kawinan, maka Bang Agus jaga sendirian. Pas ditinggal sholat dhuha warungnya dimasuki garong. Kasir box yang sedang penuh-penuhnya di akhir bulan disikat. Dan bukan hanya itu saja, ndelalah semua isi etalase diembat juga. Yang ditinggal hanya satu ikat pete.

Sehingga saya merasa wajar saja ketika Bang Agus hanya bisa diam walaupun berkali-kali dicaci-maki juragan itu. Juragan itu merasa tidak terima karena Bang Agus tidak mau melayani pesanan Pizza untuknya dan justru menceramahi Bang Agus, bayangin aja. Dia bilang kalau jaman sekarang persaingan semakin ketat, kalau tidak mengambil kesempatan dan tantangan tidak akan pernah maju. Salah seorang tamunya bahkan akan membantu Bang Agus membuka cabang di Amerika untuk mempromosikan Pizza. Terlebih lagi dia memohon agar Bang Agus tidak mempermalukan dirinya di depan tamu-tamunya dengan menghindangkan rendang, dll. Dan dia bahkan selalu menyempatkan diri untuk mampir ke tempat Bang Agus sebelum berangkat kerja, untuk menanyakan itu.

Saya juga tidak bisa membantu apa-apa ketika Bang Agus berkeluh kesah ke saya. “Saya cuman ingin kerja sederhana aja mas. Nggak usah yang muluk-muluk jualan ke Amerika segala. Asalkan saya seneng njalaninnya, itu sudah cukup,” kata Bang Agus.

Si Bambang temen deket saya dari kampung ngomong kalau Bang Agus itu sebenarnya orangnya sederhana. Di lain pihak, dia tidak dalam posisi yang bisa menolak juragan itu akibat rasa nggak enak. Jadi posisinya yang diem aja itu posisi yang pas.

Sementara itu, Yudho, adikya Bambang, ngomong kalau juragan yang maksa itu juga tidak punya rasa cinta sesama *halah. Lha ngapain kok maksa ndatengin terus. Toh semuanya bisa dilihat dari perilakunya Mas Agus. Jadi tinggal diambil kesimpulan aja. Seolah-olah diiming-imingi buka cabang ke Amerika, padahal sebenarnya si juragan itu yang tidak ingin malu ke tamu-tamunya. Yang bener yang mana? Yudho yang pernah ngicipi sekolah di ITS ngomong, mbok ya jadi orang itu yang tegas. Take it or leave it, bahasa jawanya. Kalau mau ke Mas Agus ya ambil rendangnya, tapi kalau tidak suka redang ya pindah aja ke warung sebelah. Gitu aja kok nggak bisa. Lagian kalau ngebet mau makan Pizza kenapa si juragan itu tidak berusaha jalan-jalan yang agak jauh dikit, sapa tahu nemu itu warung yang namanya Pizza Hut.

Saya pribadi mendukung Bang Agus untuk diam saja. Karena saya juga demikian. Tidak semua keinginan hati kan perlu diomongkan. Karena yang keluar pasti keegoisan. Jadi yang fair aja itu juragan sama Bang Agus. Juragan silahkan bebas mo mencecar Bang Agus dengan ceramah. Dan Bang Agus juga punya kebebasan juga mo ndanggepin atau nggak naggepin ceramah itu. Lha selama ini yang ada sang juragan juga maksa Bang Agus untuk nanggepin ceramahnya. Jadi penderitaan Bang Agus dobel. Tiggal dilihat keihklasan hati juragan itu sampai mana.

Bahkan pepatah mengatakan kalau diam itu emas. Tapi jangan gunakan pepatah itu lagi. Bisa-bisa ditambang Freeport mulutmu nanti. Atau mungkin banyak yang tidak bisa diam sekarang ini soalnya sudah habis disedot Freeport itu emas di mulutnya.

Lha mungkin kalau Bang Agus tidak punya kesanggupan untuk diam karena memperhitungkan semua aspek sosial politik ekonomi, mungkin juragan itu sudah ditabok pake bantal mukanya. Sekarang tinggal nungguin aja itu, apakah nantinya rendang daging kambing kesukaan Bang Agus akan diganti ama Pizza karena modal pake punya juragan. Mbuh, lah. Yang pasti saya tahu isi hati Bang Agus, tapi tidak akan saya omongkan ke siapa-siapa.

Chupid So Stupid

Apa sih yang dulu dikatakan oleh Romeo kepada Juliet?
Apakah sama dengan tanggapan Muhammad kepada Khadijah dan Aisyah?
Atau mungkin seperti apa yang diungkapkan Adam kepada Hawa?
Samakah dengan apa yang didengar Shinta dari Rama?
Syamsul Bahri dan Siti Nurbaya?
Nyanyian Ariel kepada Lunmay?
Lantas bagaimana dengan Jaka Tarub?
Tidak lama kemudian terdengar bisikan lembut yang membangunkanku dari lamunan,
“Hij? ni kanashii”
dan langsung saja ku cari sumber suara itu,
OH, CHUPID!! kapan pulang dari Kyushu?

Letto | Senyumanmu

Senyumanmu

Indah matamu, Gerai rambutmu
Menunjukkan itulah keindahan

Yang memberikan, Bentuk senyuman
Sebentuk usapan, Kepada hati

Sinar wajahmu, Lembut katamu
Sepertinya mampu, Menggubah dunia

Yang terasa, Begitu hampa
Semuanya sirna, Tanpa cinta

Kutemukan, Arti kerinduan
Dan kumengerti, Yang kucari

Reff :
Oh bukanlah, Cantikmu yang kucari
Bukanlah itu, Yang aku nanti
Tetapi ketulusan hati yang abadi

Kutahu, Mawar tak seindah dirimu
Awan tak seteduh tatapanmu
Tetapi kau tahu, Yang kutunggu hanyalah
senyumanmu

Dhedot : Walah dirasani kok yo lek teko ngene ki lo
Noe : Do ngopo ki? Raine koyo kopet ki?
Dhedot : Dadi ngene ki lo critane, Jane mesakke aku ndelok rupamu, nanging piye? gandeng konco kenthel, yo tho? aku tetep kudu ngomong karo koe
Noe : Ngomong opo?
Dhedot : Wedokan kae, sing mbok aku-aku pacarmu, sing semledhot kae, sing ono fotone, lha kui mung apus-apus, awang-awangmu tok kui, alah ra eneng
Noe : Njur sing tok pikir aku ki gendheng opo piye?
Dhedot : He eh
Noe : Mbok pikir aku toying ndue bojo semledhot koyo ngene?
Dhedot : Kandani og, yo mesti iyo, lha wong aku ki ngetutke kowe je
Noe : Goblok banget je cah iki, mbok pikir aku ono po iki? konco-koncomu ono po iki? iki pawujud po piye?

Reff

Noe : Mikir ki ojo nggo dengkul wae, pisan-pisan nggo ati, eling

Untuk Cahayaku

Puisi yang ada di lagu Permintaan Hati versi video. Judulnya sih saya bikin sendiri, XD.

Untuk Cahayaku

Untuk Marsya cahayaku
“ndak” ada kata yang bisa aku sampaikan
selain maaf dan terima kasih
sudah memberi arti di hidupku yang sempit ini

Aku harus pergi
bukan meninggalkanmu
tapi hanya terlepas darimu

Jika kamu yaki akanku
maka iniliah cara yang terbaik untuk dijalankan

by: Letto

Tsunami Meletus di Kepalaku

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, negeri ini sedang berduka. Dan kedukaan itu tidak hanya dari bencana (fisik) yang datang silih berganti. Namun juga dari sikap sosial yang muncul entah itu sebelum, ketika, atau setelah bencana itu terjadi. Tapi yang utama adalah semoga saudara-saudara kita semua yang sedang tertimpa musibah di beberapa daerah baru-baru ini diberikan  ketabahan, keikhlasan, dan kekuatan untuk menghadapinya. Semoga mereka dan kita semua bisa menerima dan melihat secara lebih luas apa yang ada di balik bencana itu.

Di pihak lain, tokoh kita, Yang Terhormat Bapak Wakil Rakyat yang oleh berbagai pihak disebut sebagai Marzuki Alie, memberikan komentar tentang kasus Mentawai yang mengundang pro dan kontra. “Kalau tidak mau hidup ya silahkan mati saja,” kira-kira bisa saya artikan demikian ucapan beliau. Kalimat yang tidak pantas diucapkan oleh orang sekaliber beliau, apalagi di kondisi yang masih berkabung seperti sekarang ini. “Salah siapa hidup sebagai nelayan dan tinggal di pantai? Kenapa tidak menjadi ketua DPR saja yang sebentar lagi punya gedung baru?” Dan memang benar demikian adanya. Betapa enaknya menjadi anggota dewan. “Kenapa harus sibuk mengurusi rakyat? Toh mereka sudah bisa mengurusi diri mereka sendiri. Para pengungsi juga bisa bertahan hidup sendiri kok, jadi kami bisa berlibur ke Yunani.”

Bagaimana dengan orang no satu di negeri ini? Mungkin karena sangat sedih dan terharu terhadip nasib rakyatnya beliau justru pergi keluar negeri untuk menghilangkan duka, tepat ketika bencana tengah terjadi. Tipikal orang yang seperti saya, “Tidak kuasa saya melihat penderitaan rakyat di Mentawai, Merapi, dan juga Wasior yang dulu itu. Dari pada saya nangis, hayo?” “Nanti lah barang seminggu, dua minggu baru saya nengok ke sana. Biar mereka sudah kembali dari tempat pengungsian, mayat-mayat sudah dibereskan, abu vulkanik sudah tidak ada, dan jalan sudah diperbaiki. Kan repot kalau saya harus nengok sementara kondisi belum kondusif. Ntar kalau saya kena penyakit batuk bagaimana? Palah seluruh rakyat kan yang repot?”

Sedangkan Mbah Maridjan sekarang sudah tidak lagi rosa! Saya juga lo, pengin mati dalam keadaan sujud kepada Sang Kholik. Dan memang susah sih yang kayak begitu itu. Sholat 5 waktu sehari tiap hari juga belum tentu diambil. Ah, memang susah hidup dalam ketidakpastian ini. Nanti dari pada saya mati dalam keadaan main DotA, bagaimana coba? “Eh lu Cumi, pake Chrono, ntar biar dikasih Chain sama si Lych, abis itu gue deh yang nyampah pake ulti gue!” Apa akan lebih baik kalau saya sholat di atas rel kereta api saja? Tapi saya juga tidak mau dong dikatain tolol sama “Bang Jek”.

Sedikit mengutip dari Emha Ainun Nadjib mengenai tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 dalam bukunya (saya lupa judulnya), beliau menjelaskan sudut pandang lain dari bencana itu. Siapa saja korban dari bencana? Apakah korban yang selamat itu yang hidup saja? Selamat dalam hal apa?  Apakah alam memang menjadi pelaku utama dari kekejaman itu, atau hanya sebagai kambing yang dihitamkan oleh manusia? Kalau kita menganggap bahwa kematian adalah akhir dari perjalanan manusia, lantas buat apa kita beriman kepada hari kiamat? akhirat? Setidaknya pandangan itu juga bisa kita jadikan sebagai salah satu acuan sekarang ini.

Dan saya sampai sekarang masih terjebak dalam dunia saya sendiri. Hanya bisa ngomong tanpa melakukan apa-apa. Duh!

Binun Nih ?_?

Are You Kidding??

X : My father is Laughting
X : My mom is Smilling
Y : Are you kidding??
X : No, Kidding is my broher
X : I’m Joking

Iklan XL

Kasihan manusia, mau telpon aja harus mikir!!!

Itulah kata teman-teman anda di iklan XL =D. Terus terang karena gak pake XL, jadi saya sedikit berusaha untuk mengomentari.

Untung saya gak pake XL, jadi masih dianggap sebagai manusia…

=D