Archive for the ‘ Sok Filsuf ’ Category

Jibril Mampir Untuk Bilang “Neraka Ni Ye…”

Pernah suatu ketika ada dosen yang muterin video mengenai alam semesta. Pertama kali diputerin tentang tata surya, betapa besarnya Bumi jika dibandingkan dengan Merkurius. Terus masih di dalam tata surya sendiri, ternyata bumi kalah sama Saturnus dan Jupiter. Dibandingkan dengan matahari, kedua planet kakak beradik itu kalah sama Matahari. Terus berulang sampai ke Antares. Di level itu Matahari hanya sebatas titik jika dibandingkan dengan Bola Golf Antares. Terus pertanyaan yang keluar, bumi seberapa di level itu? Dan kesimpulannya akhirnya seperti yang sudah saya duga, manusia seberapa? Karena waktu itu saya masih lebih bodoh dari sekarang, maka saya manggut-manggut saja takjub.

Kalau saya dihadapkan dengan kondisi seperti itu lagi, saya akan langsung ngacung dan mengatakan sependapat dengan beliau. “Iya Pak, saya setuju! Dengan batu atau gunung pun, manusia kalah besar. Tapi apa ya logis jika manusia dibandingkan dengan seonggok batu atau gunung? Anda tertipu jika hanya membandingkan dengan ukuran fisik, jasad pak!”

Benar manusia itu makhluk yang kecil, mikrokosmos jika menggunakan ukuran fisik. Tetapi secara spiritual, kita ini makhluk makrokosmos. Karena Tuhan pernah berkata, kuciptakan Manusia sebagai Pemimpin. Jadi logis dong kalau yang memimpin lebih besar dari yang dipimpin. Kata pak kyai demikian.

Jadi jangan bangga dengan fisik, kalau ternyata secara spiritual masih bolong-bolong. Bisa diruntut kalau ternyata yang paling rendah dari manusia adalah fisiknya. Busuknya jasad ketika mati itulah tandanya. Sedangkan jiwanya yang suci langsung kembali ke Sang Pencipta. Bahkan di level kerinduan tertentu, yang memisahkan manusia dengan Tuhan hanyalah sebatas tipisnya kematian.

Maka tertipu sudah, karena bagiku kemerdekaan fisik tidak begitu penting. Yang penting aku masih bisa bebas untuk melakukan apa saja dengan hatiku. Jadi silahkan ambil fisikku, karena akan tetap merdeka batinku. Namun tidak perlu khawatir. Aku besar, jangankan benda fisik seperti halnya gunung yang cuman sekecil itu, masalah SBY, Anas, kenaikan BBM, yang semuanya itu melebihi Antares pun masih bisa aku masukkan ke dalam diriku. Paling tidak akan aku cari sela-sela pojokan hatiku untuk memasukkan semua masalah itu. Karena aku sangat besar, aku tidak perlu membuang semua hal-hal itu, semuanya bisa aku tampung.

Mungkin belum bisa mencapai tingkatan Rabiah Al-Adawiyah yang memohon kepada Tuhan agar badannya dibesarkan sampai memenuhi neraka. Sehingga dia sendirian yang mengisi neraka, sedangkan orang lain tidak ada yang bisa dimasukkan ke neraka lagi.

Namun bagiku, jangankan kematian atau masuk neraka, kehidupan yang seperti neraka pun akan aku jalani dengan tertawa-tawa. Jadi silahkan bagi yang mau menebar surga-surga di atas neraka diriku. Tak perlu kalian sok pedulikan aku, karena kalian akan tetap kusambut dengan tawa.

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari langit, mungkin malaikat Jibril,
“Hahahahahaha, Modaro su su, Emplok en dewe kui neroko.”

Bukan Oemar Bakri

Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
S’lalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang

Dengan raut muka marah kawan yang sudah lama tak bersua itu langsung naik ke lantai dua tempat simbah tidur. Dia tengok kolong tempat tidur, tidak ada. Langsung loncat ke dapur tempat bik Ijah pembantuku yang geleng-geleng ketika ditanyai keberadaan sumber kebisingan itu. Dan setelah dua kali lagu itu berputar, barulah dia temukan si pembuat bising yang ternyata adalah ringtone dari HandPhone di tas kuliahku.
Tanpa banyak ba bi bu, dia lempar HandPhone itu ke entah lah posisi pastinya di mana, yang pasti di lantai di kamarku. Belum sempat aku marah karena HandPhoneku dibanting, dia langsung nyerocos,
“Umurmu berapa sekarang?”
“Emang kenapa bawa-bawa umur?” aku balas dengan pertanyaan juga karena terbawa emosi.
Tanpa menjawab dia ganti pertanyaannya “Semester berapa?”
Karena tidak mau memperkeruh suasana aku jawab sekenanya “Sudah lulus, tinggal wisuda. Ada masalah?”
“Ya, masalah besar.”
“Apa?” Cecarku.
“Ini” sambil tangannya mengambil HandPhone di lantai dan kemudian melemparkannya lagi. Kali ini ke tembok di samping pintu.
“Anjrit! Apa-apaan lagi ni?” Umpatku.
“Sebagai mantan santri kamu harusnya malu,” sergahnya. “Sudah khatam berkali-kali masih juga buta kau ini.”
“Aku bisa lihat mukamu yang menjijikkan itu dengan jelas,” bantahku.
“Cuh!” Ludahnya mampir ke wajahku. “Kau sudah lupa apa yang pertama kali diwahyukan kepada Nabimu?”
“Iqro’!” jawabku cepat.
“Ya!” Teriaknya. “Bacalah dengan nama Tuhanmu. Bukan bertanya dengan nama Tuhanmu.”
“Lantas apa hubungannya denganku?”
“Kamu sudah mengalami kemunduran otak selama berabad-abad. Akal yang dititipkan oleh Tuhanmu engkau biarkan menganggur tak terpakai.”
“Apa contohnya?” Sanggahku.
“Ya ini, dari tadi ini, bukti nyatanya ini.”
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Semua pertanyaan goblokmu ini buktinya.”
Aku terdiam.
“Bacalah menggunakan akalmu. Bukan hanya Qur’an, tapi juga semua hal disekeliling kamu itu dibaca.” “Baca lingkungan kamu, tempat kuliahmu, tetanggamu, semuanya yang ada di dunia ini dibaca!” nadanya mulai turun. “Baca kehidupan kamu, kemudian olah pake akal dan hatimu untuk kemudian merumuskan jawaban atas pertanyaan kehidupanmu.”
Aku masih diam mikir.
“Karena aku tahu kamu itu goblok, aku kasih contoh gini. Kalau kamu sudah tahu langit mendung, ya tinggal mikir untuk bawa payung karena nanti pasti hujan, beres. Jangan palah tanya ke orang-orang apakah ini nanti hujan ya? Gak perlu kamu minta jawaban dari orang lain, karena belum tentu orang yang kamu tanyain itu paham. Jawaban ada di dalam dirimu sendiri. Tinggal kamu peka atau tidak untuk melihat jawaban-jawaban yang ada di sekitar kamu. Dan terakhir kamu mau menerima jawaban-jawaban itu atau tidak. Misal kamu mengharapkan panas agar bisa mencari rumput untuk makan kambing, tapi kenyataan mendung, terus kamu nekat ke lapangan, ya sudah tinggal menanti basah tubuhmu aja.”
Aku masih diam.
“Karena aku juga bukan gurumu, maka tidak ada suatu kewajiban apapun bagiku untuk memberitahukan kamu, Guru yang paling baik itu adalah diri sendiri. Temukan semua jawaban dari dalam dirimu.” ucapnya sambil ngloyor ke ruang makan.
Sambil mikir aku berjalan ke dekat pintu untuk mengambil HandPhoneku. Untung saja HandPhoneku bandel, walau sudah dibanting berkali-kali tetap masih bisa nyala. Dan langsung aku berteriak ke kawanku itu,
“Oh, Kau pasti tidak menyukai Iwan Fals.”

I’m Goat of Gembel

Prestasi tertinggi hidup sebagai manusia adalah bisa membahagiakan manusia lain. Jadi, karena saya terlanjur dipersaudarakan dengan anda sebagai seorang manusia, maka saya mempunyai kewajiban untuk merangkul anda semua ke dalam senyuman dan berusaha untuk tidak mencelakakan anda. Bagi saya itu cukup.

Berbeda kalau dulu saya dilahirkan sebagai kambing, maka kehidupan saya tidak akan cukup untuk membahagiakan anda. Untuk bisa membahagiakan anda, saya harus disembelih dahulu baru kemudian dikuliti dan dimasak gulai atau dibakar sebagai sate. Setelah dihidangkan di atas piring dan siap disantap, itulah kemuliaan yang dicari oleh seekor kambing.

Jadi kambing punya cinta?

Iya! Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau dijadikan santapan oleh manusia?

Cinta seekor kambing tidak pernah diperlihatkan kepada manusia yang dicintainya. Ditutupinya kecintaan itu dengan baunya yang prengus, kelakuan yang menjijikkan seperti buang kotoran di sembarang tempat (namanya juga kambing). Karena memang cinta tidak perlu diperlihatkan. Dan kalau perlu jangan sampai yang dicintai itu tahu kalau dia dicintai oleh kambing.Terus pembuktiannya apa kambing mencintai manusia?

Jancuk! Ndadak butuh pembuktian segala! Emangnya ini pengadilan? Cinta tidak membutuhkan pembuktian apapun! Tidak perlu alasan dan tidak perlu pembuktian.

Karena inti dari mencintai adalah berharap agar yang dicintai bisa bahagia. That’s enought! Wis cukup tekan kono tok, Cuk! Terserah dia mau bahagia gimana, dengan siapa, kapan, dimana, caranya apa? Terserah! Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia.

Jadi jangan lantas kalian semua wahai manusia mengatakan “aku mencintaimu wahai penghuni hatiku”. Sampah! Tanyakan dulu kepada dirimu, apakah kamu masih akan mencintainya kalau dia tidak menncintaimu juga? Tanyakan apakah kamu masih akan mencintainya kalau ternyata tidak bisa memilikinya? Kau butuh mencintainya? Atau butuh dicintai olehnya? Atau kau mencintainya agar dia juga mencintaimu? Sehingga alasan kamu mencintainya adalah karena butuh dicintai olehnya? Dan paling parah adalah mencintai untuk bisa memiliki, Wis jan gak elit blas! Pernahkah kau berpikir sekali saja tentang kebahagiaannya?

Kambing gak kenal sampah macam itu!

Jadi kambing tidak pernah membayangkan (apalagi sampai memaksakan) untuk hidup terus dengan manusia yang dicintainya. Karena puncak kecintaannya adalah ketika dia bersedia dijadikan sate untuk kebahagiaan umat manusia. Walaupun dia harus berpisah dengan manusia yang dicintainya dan bertemu dengan kematian.

Tetapi ada saat di mana kambing bertemu dengan manusia yang tidak menyukai masakan yang berasal dari kambing. Lantas, apakah kambing sakit hati? Cintanya yang dibayar dengan kematian tidak dihormati sama sekali dengan tidak mencicipi makanan dari dagingnya?

TIDAK! Kambing tidak sakit hati! Karena kambing mencintai manusia tidak dengan alasan apapun. Kambing tidak pernah berharap bahwa dia juga dicintai oleh manusia. Kebahagiaan kambing tidak berasal dari pengakuan cintanya oleh manusia.

Karena cinta kambing sangatlah sederhana. Tidak pernah mengharapkan apapun. Bagi kambing, dia butuh untuk mencintai. Tidak untuk dicintai. Karena kebahagiaan bagi kambing adalah ketika yang dicintainya bahagia.

Sebelum berpisah dengan cintanya, kambing akan berkata, “Aku akan selalu berdoa untukmu“. Ya! Cinta kambing sesederhana doa itu.

Seorang audience kemudian angkat tangan dan bertanya, “Dari mana anda tahu itu semua?”

Loh, anda pikir yang ngomong dari tadi manusia?

Mungkinkah kata Asu cocok dengan kata Bajingan, errr atau lebih baik kata Jancuk?

Senja mulai menampakkan diri ketika Jhonni berhenti dan turun dari motornya di depan rumah mewah di kawasan kemang.

“Namaku Bento, rumah real estate, ….,” Jhonni mendekati pagar rumah sambil melanjutkan lagu Band terkenal itu.

Di pojokan jalan dia menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum kemudian mengeluarkan barang berharga miliknya. “Ah.. lega…,” gumamnya ketika melaksanakan prosesi hajat yang sudah dia tahan sejak sejam yang lalu. Dan ketika sudah selesai, iseng-iseng dia membaca tulisan yang tertempel di pagar “Dilarang Kencing di sini Selain Anjing!” Sambil ngeloyor pergi dia mengomentari tulisan itu,

“Cuk, mana mungkin anjing bisa baca?” Sambil kembali ke motornya dendang lagu Band terkenal yang vokalisnya mirip dia terdengar lagi, “lalala lala la la la ….”

Emang si Jhonni sering dikatakai Asu (Anjing) oleh teman-temannya. Tapi hal itu tidak pernah dipikirkan olehnya. Entah karena kelakuannya memang seperti anjing, atau karena dia berpikir bahwa teman-temannya tidak kredible untuk menjuluki dirinya anjing, lantaran bagaimana mungkin anjing mejuluki orang lain anjing?

Sampai suatu ketika ada seseorang yang sudah secara usia jauh di atas dirinya mengatai “Asu, Bajingan koe yo Jhon!” (Anjing Bajingan kamu ya Jhon!) Lah, emang saya salah apa? Pikir Jhonni malam harinya. Dia tidak begitu mempermasalahkan apa yang sudah dia lakukan kepada orang itu, namun dia lebih tertarik akan estetika penggunaan kata “Asu” dan “Bajingan.”

Penggunaan kata Asu dan Bajingan dalam suatu umpatan (Jawa Tengah) merupakan suatu kombinasi yang sangat hebat. “Penemunya pasti seorang yang kejeniusannya tidak kalah dari Mozart dan Haydn” pikirnya. Karena sama dengan symphony yang diciptakan maestro-maestro tersebut, dari dua kata yang digabung itu bisa menghasilkan kelegaan batin tersendiri bagi para pengucapnya. Apalagi jika tekanan nada ketika sampai di huruf “B” dibuat tinggi sehingga suara yang dihasilkan terdengar “Buajingan!”

Asu adalah nama sebuah binatang yang kebetulan oleh Tuhan diharamkan, jangankan untuk dimakan, terkena endusan hidung si binatang itu saja adalah najis besar yang cara menghilangkannya harus dibasuh tujuh kali dan salah satunya dengan debu. Sewaktu SD si Jhonni sempet ndenger cerita mengenai penciptaan anjing. Bahwa gundukan tanah yang akan digunakan untuk menciptakan manusia diludahi oleh setan-setan. Oleh karena itu Tuhan menyuruh malaikat untuk membersihkan tanah yang terkena ludah dengan cara dicutik i. Dan “guk” ketika tanah-tanah hasil cutik an malaikat-malaikat tersebut terpisah, berubahlah menjadi anjing dan saudaranya, babi.

Entah sejak kapan, kemudian Asu berubah menjadi nama bagi orang yang “berkelakuan buruk.” Dan si Jhonni yakin seratus persen bahwa hewan yang bernama Asu tidak akan pernah terima jika namanya digunakan untuk menjuluki manusia yang berkelakuan buruk. Seandainya Asu bisa bericara, pasti hewan itu akan mendatangi komisi HAM (HAK ASU MANUSIA) untuk mengajukan gugatan terhadap pencemaran nama baik Asu.

“Kami bernama Asu karena Tuhan menjadikan kami sebagai Asu!” kata perwakilan Asu. “Jadi jangan pernah memakai nama kami untuk menjuluki kalian, umat manusia” tambahnya.

“Apa yang kalian harapkan dari Asu wahai manusia? Kelakuan kami memang begini dari dulu. Kami memang menjijikkan, lantas apa? Toh kami juga tidak pernah protes kepada Tuhan karena telah menciptakan kami dengan kondisi seperti ini.”

“Tetapi bagaimana dengan kalian para manusia, konon diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna karena mempunyai akal. Tetapi justru ingin menjajah dunia kami dengan berkelakuan seperti kami? Lantas menggunakan nama kami, Asu, untuk menyebut jenis kalian sendiri. Kami tidak terima!” lanjut orasi si Asu.

“Kalau kalian wahai manusia tetap ngotot menggunakan nama Asu, maka mulai detik ini, kami akan memanggil jenis kami yang berkelakuan diluar standar hukum perAsuan dengan umpatan “Manusia” untuk memperlihatkan betapa rendahnya derajat manusia dibandingkan dengan bangsa Asu.” Tutup pidato si Asu.

“Lantas bagaimana dengan Bajingan?” pikir si Jhonni.

Bajingan dalam bahasa jawa adalah tukang penarik gerobak. Lantas kenapa dijadikan sebagai bahan umpatan? Apakah pekerjaan sebagai penarik gerobak tidak terhormat? Lebih terhormat mana dibandingkan dengan Dewan Kehormatan Rakyat yang setiap hari muncul di televisi?

Jika ditelusuri dari sejarahnya, gerobak adalah kendaraan pengangkutan pada zaman dulu kala. Kemudian masuk bangsa penjajah yang membawa semangat pembaharuan, sehingga kendaraan angkut berevolusi menjadi mobil. Jadi jika ingin konsisten, seharusnya umpatan Bajingan harus diperbaharui menjadi “Supir!” Dan kalau sudah begitu,  masih adakah yang berani mengumpat di terminal?

“Ah, JANCUK! pancen paling enak” Umpat si Jhonni sambil ngluyur pergi.

Think Thank! (part 2)

Hati adalah seonggok daging yang ada di dalam diri manusia yang membuat manusia mempunyai kemampuan untuk merasakan. Dengan kata lain, hati adalah produsen perasaan yang ada di diri manusia. Yang membuat manusia (kata orang) mempunyai sense of humanity.

Namun demikian, ternyata dari seonggok daging tersebut jua lah yang mendasari tindakan-tindakan manusia yang salah. Apa sebab? Karena kalau kita mengikuti permintaan si hati, itu tidak akan pernah ada habisnya. Akan selalu kurang, kurang, dan kurang. Dan keinginan hati tidak akan sanggup kita penuhi.

Dan jika hati menjadi pertimbangan pertama untuk bertindak, resiko untuk mengambil keputusan yang salah akan semakin besar. Karena hati selalu mengutamakan ego pribadi. Kita akan diseret untuk memenuhi semua hal sampai kita merasa terpuaskan (kita berada dalam kondisi nyaman). Jika hal itu terjadi, yang memenuhi diri kita kemudian adalah pembenaran. Pembenaran untuk melakukan segala hal, asalkan keinginan hati bisa terpenuhi.

Itu lah hal paling menakutkan yang jarang diperhatikan oleh orang, dan (maaf beribu maaf) terutama ladies. Mereka akan mencerca dengan kata-kata yang konteksnya “dasar, sudah tidak punya hati nurani” dan segala macam yang berbau dengan itu.

Padahal hati seharunya memperoleh proporsi pertimbangan terendah dalam kehidupan ini. Lantas apa pertimbangan utama? Tentu saja akal. Akal harus bisa menjadi helm bagi hati dengan mekanisme berpikir. Dengan berpikir, kita akan dasar secara logika tentang kebenaran yang objektif, sehingga bisa membatasi keinginan kita. Mana yang boleh, dan mana yang tidak dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang ada di dunia ini.

Oleh karena itu, Management Qolbu itu sangat penting. Tetapi ingat, Qolbu adalah hal yang dimanage, bukan yang memanage. Dalam hal apapun. Jika keinginan hati kita berlebih, maka itu lah yang dinamakan dengan nafsu. Dan bila kita terus menerus mengikuti si nafsu itu, maka timbullah stress, supresi, depresi. Karena saya pernah merasakan hal itu =D.

Hati itu suci, namun selama kita masih hidup, harus di-helm-i dengan akal. Jika tidak, kita akan cepat bertemu dengan yang Maha Suci.

Untuk konteks lebih jelas, silahkan baca surat An-Nur 35.

Think Thank! (part 1)

Baru sebentar rasanya saya merasakan hidup menjadi manusia di dunia, setelah sekian lama hilang di dalam dunia yang entah apa itu namanya. Di mana waktu tidak hanya berjalan cepat, bahkan saya tidak tahu apakah waktu berjalan di situ atau tidak. Banyak hal-hal kecil yang terlewatkan seolah akan bisa saya jumpai kembali di kemudian hari.
Di dunia itu, saya adalah apa yang saya inginkan. Tidak ada yang tidak bisa saya lakukan. Saya yang menguasai semuanya. Bahkan Tuhanpun saya permainkan, apalagi agama dan makhluk-makhlukNya. Menyepelekan siapapun. Karena saya bisa mengerjakan apapun, bahkan sambil tiduran. Dan tidak ada yang bisa menghalangi saya untuk mengerjakan atau untuk tidak mengerjakan apa yang saya inginkan.
Tapi dunia itu lama-kelamaan menjadi sangat sempit. Terlalu banyak lahan kosong yang sudah saya ambil. Sedangkan proyek-proyek yang sedang saya tangani semakin bertambah. Mau-tidak mau harus mengkanibal milik sendiri. Gedung-gedung kantor yang saya bangun terpaksa saya buldozer untuk membangun jalan tol. Stadion terpaksa dipindah karena lahan akan lebih menguntungkan jika dibangun Mall dan bioskop.
Tanpa memperkirakan kondisi air tanah dan perubahan iklim global akibat banyaknya pabrik yang saya bangun, pondasi dunia itu lama-kelamaan menjadi keropos. Dan sampai saat itu pun saya masih innocent untuk tetap melakukan penanaman aset-aset fisik yang justru memperparah kondisi. Teguran dari berbagai kalangan yang entah mereka tahu kondisi saya atau tidak saya anggap remeh. Hal-hal yang bisa memperbaiki dunia saya tidak pernah saya gubris.
Satu, dua, tiga kali gempa bumi 7 skala ritcher bisa saya tangani. Gelombang tsunami dan gunung meletus yang terjadi secara bersamaan bisa saya akali. Saya tidak sadar bahwa penanganan bencana tersebut juga harus semakin mengorbankan pondasi dunia saya.
Sampai suatu ketika, sewaktu saya tertidur, satu persatu tiang penyangga roboh. Saya terbangun, panik, dan berusaha lari menyelamatkan diri, mengungsi ke dunia lain dengan roket yang sudah saya bangun sebelumnya. Tetapi setelah berada di dalam kabin, saya baru sadar bahwa yang saya bangun ternyata kapal selam. Sementara pondasi tersebut sudah mulai runtuh secara berurutan. Dan roket yang ternyata kapal selam saya pun ikut terjerumus ke dalam kubangan yang tidak berdasar. Ikut tertimbun material-material pondasi dan bangunan yang selama ini saya bangun.
Ketika terjerumus dan jatuh ke dalam kubangan itu, saya berusaha bercermin di ruang waktu dan berusaha mencari pertanyaan mendasar tentang dunia saya itu. Baru kemudian saya sadar, ternyata saya sendirilah yang menjerumuskan diri ke dalam dunia itu. Yang saya sadari sebagai sebuah hati.

Letto Logika

Akhir-akhir ini Letto selalu mengisi telinga saya, karena saya baru sadar bahwa lirik di beberapa lagunya sangat menyentuh. Tidak hanya romantis, yang memberikan gambaran akan cinta terhadap sesama. Tetapi jika dicermati sedikit lebih dalam, akan terpantul cinta-cinta yang vertikal. Cinta abstraksi (opo meneh iki ^^) antara makhluk dengan penciptanya. Bisa anda bilang religius (sebenarnya saya menghindari penggunaan kata itu).
Yang membuat saya respek adalah Letto bukan band yang lebay. Sehingga baik dalam lirik maupun video clip yang mereka buat, tidak bombastis, dengan segala embel-embel kata yang religius tadi. Sehingga hanya pendengar yang cukup cerdas yang bisa melihat ke-religius-an musik mereka. Sehingga bebas bagi siapapun untuk menafsirkan lagu tersebut. Hal itu bisa diartikan bahwa lagu-lagu tersebut cukup dimaknai religius secara individu, baik itu oleh para personil Letto maupun pendengarnya. Dan jelas itu berbeda dari band-band lain yang dengan garangnya membawa nama Tuhan, sedangkan di dalam kehidupan mereka, Tuhan tidaklah primer-primer amat.
Ini adalah beberapa lagu Letto yang saya sukai: