I’m Goat of Gembel
Prestasi tertinggi hidup sebagai manusia adalah bisa membahagiakan manusia lain. Jadi, karena saya terlanjur dipersaudarakan dengan anda sebagai seorang manusia, maka saya mempunyai kewajiban untuk merangkul anda semua ke dalam senyuman dan berusaha untuk tidak mencelakakan anda. Bagi saya itu cukup.
Berbeda kalau dulu saya dilahirkan sebagai kambing, maka kehidupan saya tidak akan cukup untuk membahagiakan anda. Untuk bisa membahagiakan anda, saya harus disembelih dahulu baru kemudian dikuliti dan dimasak gulai atau dibakar sebagai sate. Setelah dihidangkan di atas piring dan siap disantap, itulah kemuliaan yang dicari oleh seekor kambing.
Jadi kambing punya cinta?
Iya! Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau dijadikan santapan oleh manusia?
Cinta seekor kambing tidak pernah diperlihatkan kepada manusia yang dicintainya. Ditutupinya kecintaan itu dengan baunya yang prengus, kelakuan yang menjijikkan seperti buang kotoran di sembarang tempat (namanya juga kambing). Karena memang cinta tidak perlu diperlihatkan. Dan kalau perlu jangan sampai yang dicintai itu tahu kalau dia dicintai oleh kambing.Terus pembuktiannya apa kambing mencintai manusia?
Jancuk! Ndadak butuh pembuktian segala! Emangnya ini pengadilan? Cinta tidak membutuhkan pembuktian apapun! Tidak perlu alasan dan tidak perlu pembuktian.
Karena inti dari mencintai adalah berharap agar yang dicintai bisa bahagia. That’s enought! Wis cukup tekan kono tok, Cuk! Terserah dia mau bahagia gimana, dengan siapa, kapan, dimana, caranya apa? Terserah! Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia.
Jadi jangan lantas kalian semua wahai manusia mengatakan “aku mencintaimu wahai penghuni hatiku”. Sampah! Tanyakan dulu kepada dirimu, apakah kamu masih akan mencintainya kalau dia tidak menncintaimu juga? Tanyakan apakah kamu masih akan mencintainya kalau ternyata tidak bisa memilikinya? Kau butuh mencintainya? Atau butuh dicintai olehnya? Atau kau mencintainya agar dia juga mencintaimu? Sehingga alasan kamu mencintainya adalah karena butuh dicintai olehnya? Dan paling parah adalah mencintai untuk bisa memiliki, Wis jan gak elit blas! Pernahkah kau berpikir sekali saja tentang kebahagiaannya?
Kambing gak kenal sampah macam itu!
Jadi kambing tidak pernah membayangkan (apalagi sampai memaksakan) untuk hidup terus dengan manusia yang dicintainya. Karena puncak kecintaannya adalah ketika dia bersedia dijadikan sate untuk kebahagiaan umat manusia. Walaupun dia harus berpisah dengan manusia yang dicintainya dan bertemu dengan kematian.
Tetapi ada saat di mana kambing bertemu dengan manusia yang tidak menyukai masakan yang berasal dari kambing. Lantas, apakah kambing sakit hati? Cintanya yang dibayar dengan kematian tidak dihormati sama sekali dengan tidak mencicipi makanan dari dagingnya?
TIDAK! Kambing tidak sakit hati! Karena kambing mencintai manusia tidak dengan alasan apapun. Kambing tidak pernah berharap bahwa dia juga dicintai oleh manusia. Kebahagiaan kambing tidak berasal dari pengakuan cintanya oleh manusia.
Karena cinta kambing sangatlah sederhana. Tidak pernah mengharapkan apapun. Bagi kambing, dia butuh untuk mencintai. Tidak untuk dicintai. Karena kebahagiaan bagi kambing adalah ketika yang dicintainya bahagia.
Sebelum berpisah dengan cintanya, kambing akan berkata, “Aku akan selalu berdoa untukmu“. Ya! Cinta kambing sesederhana doa itu.
Seorang audience kemudian angkat tangan dan bertanya, “Dari mana anda tahu itu semua?”
Loh, anda pikir yang ngomong dari tadi manusia?


