Jibril Mampir Untuk Bilang “Neraka Ni Ye…”
Pernah suatu ketika ada dosen yang muterin video mengenai alam semesta. Pertama kali diputerin tentang tata surya, betapa besarnya Bumi jika dibandingkan dengan Merkurius. Terus masih di dalam tata surya sendiri, ternyata bumi kalah sama Saturnus dan Jupiter. Dibandingkan dengan matahari, kedua planet kakak beradik itu kalah sama Matahari. Terus berulang sampai ke Antares. Di level itu Matahari hanya sebatas titik jika dibandingkan dengan Bola Golf Antares. Terus pertanyaan yang keluar, bumi seberapa di level itu? Dan kesimpulannya akhirnya seperti yang sudah saya duga, manusia seberapa? Karena waktu itu saya masih lebih bodoh dari sekarang, maka saya manggut-manggut saja takjub.
Kalau saya dihadapkan dengan kondisi seperti itu lagi, saya akan langsung ngacung dan mengatakan sependapat dengan beliau. “Iya Pak, saya setuju! Dengan batu atau gunung pun, manusia kalah besar. Tapi apa ya logis jika manusia dibandingkan dengan seonggok batu atau gunung? Anda tertipu jika hanya membandingkan dengan ukuran fisik, jasad pak!”
Benar manusia itu makhluk yang kecil, mikrokosmos jika menggunakan ukuran fisik. Tetapi secara spiritual, kita ini makhluk makrokosmos. Karena Tuhan pernah berkata, kuciptakan Manusia sebagai Pemimpin. Jadi logis dong kalau yang memimpin lebih besar dari yang dipimpin. Kata pak kyai demikian.
Jadi jangan bangga dengan fisik, kalau ternyata secara spiritual masih bolong-bolong. Bisa diruntut kalau ternyata yang paling rendah dari manusia adalah fisiknya. Busuknya jasad ketika mati itulah tandanya. Sedangkan jiwanya yang suci langsung kembali ke Sang Pencipta. Bahkan di level kerinduan tertentu, yang memisahkan manusia dengan Tuhan hanyalah sebatas tipisnya kematian.
Maka tertipu sudah, karena bagiku kemerdekaan fisik tidak begitu penting. Yang penting aku masih bisa bebas untuk melakukan apa saja dengan hatiku. Jadi silahkan ambil fisikku, karena akan tetap merdeka batinku. Namun tidak perlu khawatir. Aku besar, jangankan benda fisik seperti halnya gunung yang cuman sekecil itu, masalah SBY, Anas, kenaikan BBM, yang semuanya itu melebihi Antares pun masih bisa aku masukkan ke dalam diriku. Paling tidak akan aku cari sela-sela pojokan hatiku untuk memasukkan semua masalah itu. Karena aku sangat besar, aku tidak perlu membuang semua hal-hal itu, semuanya bisa aku tampung.
Mungkin belum bisa mencapai tingkatan Rabiah Al-Adawiyah yang memohon kepada Tuhan agar badannya dibesarkan sampai memenuhi neraka. Sehingga dia sendirian yang mengisi neraka, sedangkan orang lain tidak ada yang bisa dimasukkan ke neraka lagi.
Namun bagiku, jangankan kematian atau masuk neraka, kehidupan yang seperti neraka pun akan aku jalani dengan tertawa-tawa. Jadi silahkan bagi yang mau menebar surga-surga di atas neraka diriku. Tak perlu kalian sok pedulikan aku, karena kalian akan tetap kusambut dengan tawa.
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari langit, mungkin malaikat Jibril,
“Hahahahahaha, Modaro su su, Emplok en dewe kui neroko.”


