Posts Tagged ‘ Jancuk

Mungkinkah kata Asu cocok dengan kata Bajingan, errr atau lebih baik kata Jancuk?

Senja mulai menampakkan diri ketika Jhonni berhenti dan turun dari motornya di depan rumah mewah di kawasan kemang.

“Namaku Bento, rumah real estate, ….,” Jhonni mendekati pagar rumah sambil melanjutkan lagu Band terkenal itu.

Di pojokan jalan dia menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum kemudian mengeluarkan barang berharga miliknya. “Ah.. lega…,” gumamnya ketika melaksanakan prosesi hajat yang sudah dia tahan sejak sejam yang lalu. Dan ketika sudah selesai, iseng-iseng dia membaca tulisan yang tertempel di pagar “Dilarang Kencing di sini Selain Anjing!” Sambil ngeloyor pergi dia mengomentari tulisan itu,

“Cuk, mana mungkin anjing bisa baca?” Sambil kembali ke motornya dendang lagu Band terkenal yang vokalisnya mirip dia terdengar lagi, “lalala lala la la la ….”

Emang si Jhonni sering dikatakai Asu (Anjing) oleh teman-temannya. Tapi hal itu tidak pernah dipikirkan olehnya. Entah karena kelakuannya memang seperti anjing, atau karena dia berpikir bahwa teman-temannya tidak kredible untuk menjuluki dirinya anjing, lantaran bagaimana mungkin anjing mejuluki orang lain anjing?

Sampai suatu ketika ada seseorang yang sudah secara usia jauh di atas dirinya mengatai “Asu, Bajingan koe yo Jhon!” (Anjing Bajingan kamu ya Jhon!) Lah, emang saya salah apa? Pikir Jhonni malam harinya. Dia tidak begitu mempermasalahkan apa yang sudah dia lakukan kepada orang itu, namun dia lebih tertarik akan estetika penggunaan kata “Asu” dan “Bajingan.”

Penggunaan kata Asu dan Bajingan dalam suatu umpatan (Jawa Tengah) merupakan suatu kombinasi yang sangat hebat. “Penemunya pasti seorang yang kejeniusannya tidak kalah dari Mozart dan Haydn” pikirnya. Karena sama dengan symphony yang diciptakan maestro-maestro tersebut, dari dua kata yang digabung itu bisa menghasilkan kelegaan batin tersendiri bagi para pengucapnya. Apalagi jika tekanan nada ketika sampai di huruf “B” dibuat tinggi sehingga suara yang dihasilkan terdengar “Buajingan!”

Asu adalah nama sebuah binatang yang kebetulan oleh Tuhan diharamkan, jangankan untuk dimakan, terkena endusan hidung si binatang itu saja adalah najis besar yang cara menghilangkannya harus dibasuh tujuh kali dan salah satunya dengan debu. Sewaktu SD si Jhonni sempet ndenger cerita mengenai penciptaan anjing. Bahwa gundukan tanah yang akan digunakan untuk menciptakan manusia diludahi oleh setan-setan. Oleh karena itu Tuhan menyuruh malaikat untuk membersihkan tanah yang terkena ludah dengan cara dicutik i. Dan “guk” ketika tanah-tanah hasil cutik an malaikat-malaikat tersebut terpisah, berubahlah menjadi anjing dan saudaranya, babi.

Entah sejak kapan, kemudian Asu berubah menjadi nama bagi orang yang “berkelakuan buruk.” Dan si Jhonni yakin seratus persen bahwa hewan yang bernama Asu tidak akan pernah terima jika namanya digunakan untuk menjuluki manusia yang berkelakuan buruk. Seandainya Asu bisa bericara, pasti hewan itu akan mendatangi komisi HAM (HAK ASU MANUSIA) untuk mengajukan gugatan terhadap pencemaran nama baik Asu.

“Kami bernama Asu karena Tuhan menjadikan kami sebagai Asu!” kata perwakilan Asu. “Jadi jangan pernah memakai nama kami untuk menjuluki kalian, umat manusia” tambahnya.

“Apa yang kalian harapkan dari Asu wahai manusia? Kelakuan kami memang begini dari dulu. Kami memang menjijikkan, lantas apa? Toh kami juga tidak pernah protes kepada Tuhan karena telah menciptakan kami dengan kondisi seperti ini.”

“Tetapi bagaimana dengan kalian para manusia, konon diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna karena mempunyai akal. Tetapi justru ingin menjajah dunia kami dengan berkelakuan seperti kami? Lantas menggunakan nama kami, Asu, untuk menyebut jenis kalian sendiri. Kami tidak terima!” lanjut orasi si Asu.

“Kalau kalian wahai manusia tetap ngotot menggunakan nama Asu, maka mulai detik ini, kami akan memanggil jenis kami yang berkelakuan diluar standar hukum perAsuan dengan umpatan “Manusia” untuk memperlihatkan betapa rendahnya derajat manusia dibandingkan dengan bangsa Asu.” Tutup pidato si Asu.

“Lantas bagaimana dengan Bajingan?” pikir si Jhonni.

Bajingan dalam bahasa jawa adalah tukang penarik gerobak. Lantas kenapa dijadikan sebagai bahan umpatan? Apakah pekerjaan sebagai penarik gerobak tidak terhormat? Lebih terhormat mana dibandingkan dengan Dewan Kehormatan Rakyat yang setiap hari muncul di televisi?

Jika ditelusuri dari sejarahnya, gerobak adalah kendaraan pengangkutan pada zaman dulu kala. Kemudian masuk bangsa penjajah yang membawa semangat pembaharuan, sehingga kendaraan angkut berevolusi menjadi mobil. Jadi jika ingin konsisten, seharusnya umpatan Bajingan harus diperbaharui menjadi “Supir!” Dan kalau sudah begitu,  masih adakah yang berani mengumpat di terminal?

“Ah, JANCUK! pancen paling enak” Umpat si Jhonni sambil ngluyur pergi.